← Beranda
Utilisasi Industri Semen Anjlok, Solusi Bangun Indonesia Malah Raup Laba
Ilham Dwi Ridlo WancokoMinggu, 3 Mei 2026 | 02.16 WIB
Ilustrasi pekerja yang sedang menyiapkan pengiriman semen. (Ilham Wancoko/Jawa Pos)

 JawaPos.com - Industri semen nasional tengah menghadapi tekanan berat akibat kelebihan pasokan. Dengan kapasitas terpasang mencapai 124 juta ton, tingkat utilisasi pabrik hanya berada di kisaran 53,9 persen.

Kondisi ini menunjukkan hampir separuh kapasitas produksi tidak terpakai. Situasi tersebut mencerminkan lemahnya permintaan di pasar domestik.

Namun, di tengah kondisi tersebut, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk justru mencatatkan kinerja berbeda. Anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk ini berhasil membukukan lonjakan laba signifikan.

Sepanjang kuartal I 2026, SBI mencatat laba bersih sebesar Rp 101,89 miliar. Angka ini naik 111,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 48,22 miliar.

Dari sisi pendapatan, pertumbuhan yang dicatat relatif terbatas. Penjualan semen dan terak hanya naik 1,4 persen menjadi 2,92 juta ton.

Kenaikan volume tersebut mendorong pendapatan menjadi Rp 2,56 triliun. Secara tahunan, angka ini tumbuh 3,6 persen.

Lonjakan laba yang jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan menunjukkan satu hal. Efisiensi biaya menjadi faktor utama peningkatan kinerja.

Direktur Utama SBI, Rizki Kresno Edhie Hambali, menyebut strategi transformasi perusahaan berperan penting. Perusahaan menjaga profitabilitas melalui pengelolaan biaya yang disiplin.

“Capaian ini mencerminkan efektivitas strategi transformasi yang dijalankan konsisten untuk menjaga profitabilitas di tengah dinamika industri,” ujar Rizki, Jumat (1/5/2026).

Salah satu langkah utama dilakukan pada sektor energi. SBI meningkatkan penggunaan bahan bakar alternatif di fasilitas produksinya.

Strategi ini tidak hanya menekan biaya operasional. Langkah tersebut juga mendukung aspek keberlanjutan perusahaan.

Upaya tersebut membuahkan hasil dalam bentuk sertifikasi lingkungan. Pabrik di Lhoknga, Narogong, dan Cilacap meraih Green Label Platinum, sementara pabrik Tuban mendapatkan predikat Gold.

Ke depan, perusahaan menyadari pasar domestik tidak dapat diandalkan sepenuhnya. Asosiasi Semen Indonesia memproyeksikan pertumbuhan permintaan hanya sekitar 1 hingga 2 persen pada 2026.

Sebagai langkah ekspansi, SBI mulai menggarap pasar ekspor. Perusahaan tengah menyiapkan fasilitas dermaga dan pemuatan terintegrasi di Tuban, Jawa Timur.

Fasilitas tersebut akan digunakan untuk pengiriman semen ke pasar internasional. Salah satu target utama adalah Amerika Serikat.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan utilisasi pabrik. Total kapasitas produksi SBI saat ini mencapai 14,86 juta ton per tahun.

“Ini adalah langkah progresif yang memperluas pasar, meningkatkan utilitas, memperkuat daya saing global, dan menciptakan sumber pendapatan baru yang lebih stabil,” tegas Rizki.

Di dalam negeri, SBI juga mengincar proyek infrastruktur strategis. Perusahaan menawarkan produk dengan spesifikasi khusus untuk kebutuhan tertentu.

Salah satunya adalah beton fast track yang dapat kering dalam tiga hari. Produk ini digunakan dalam perbaikan Tol Pejagan-Pemalang.

Selain itu, SBI juga terlibat dalam suplai proyek pabrik perakitan kendaraan listrik di Subang. Proyek tersebut disebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.

Strategi efisiensi dan ekspansi ini menjadi kunci keberhasilan SBI. Di tengah pasar yang lesu, perusahaan mampu menjaga pertumbuhan dan profitabilitas.

EDITOR: Dhimas Ginanjar