JawaPos.com - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Jogjakarta dan Jawa Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengonfirmasi status gunung api paling aktif di Indonesia ini masih bertahan kokoh di Level III (Siaga) akibat suplai magma yang terus bergerak dinamis dari dalam perut bumi.
Ketenangan di visual permukaan lereng kerap kali menipu. Meskipun puncak setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut tersebut sempat terselimut kabut tipis hingga tebal, dinamika bawah tanah Merapi justru terekam sangat aktif. Dikutip dari Radar Jogja, asap kawah berwarna putih bertekanan lemah sesekali terlihat membumbung hingga ketinggian 150 meter ke udara.
Udara dingin pegunungan disertai angin berembus perlahan ke arah timur mengiringi pemantauan berkala dari pagi hingga siang hari.
Puluhan Gempa Terekam, Suplai Magma Belum Berhenti
Di balik tampilan visual yang terkesan tenang, instrumen pemantau gempa merekam gelombang getaran yang terbilang intens. Catatan seismik mengonfirmasi adanya akumulasi material cair yang terus bergejolak mencari jalan keluar.
Petugas mencatat puluhan kali gempa guguran terjadi akibat luncuran material vulkanik di sepanjang lereng Merapi. Selain itu, belasan gempa fase banyak (hibrid) turut terekam oleh alat pemantau.
Rangkaian data kegempaan ini menjadi bukti konkret bahwa suplai magma dari kedalaman bumi menuju permukaan masih berlangsung. Kondisi ini sewaktu-waktu berpotensi memicu munculnya awan panas guguran yang mematikan.
Pemetaan Zona Merah dan Radius Bahaya Utama
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan bahwa potensi bahaya terbesar saat ini terfokus pada tiga sektor, yakni selatan, barat daya, dan tenggara. Aliran sungai purba yang berhulu di puncak menjadi jalur utama ancaman luncuran lava maupun awan panas.
Untuk sektor selatan dan barat daya, seperti Sungai Boyong, Bedog, Krasak, dan Bebeng, radius bahaya ditetapkan mencapai lima hingga tujuh kilometer dari puncak. Seluruh area ini menjadi prioritas utama yang harus disterilkan dari segala aktivitas manusia.
Sementara itu, sektor tenggara yang meliputi Sungai Woro dan Gendol masuk dalam zona bahaya dengan radius tiga hingga lima kilometer. Apabila terjadi erupsi eksplosif, material pijar diperkirakan mampu meluncur hingga jarak tiga kilometer ke segala arah.
Imbauan Kewaspadaan untuk Masyarakat Lereng Merapi
Masyarakat yang bermukim di sekitar lereng imbau keras untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam zona rawan bahaya. Kewaspadaan ekstra juga perlu ditingkatkan terhadap potensi ancaman banjir lahar dingin, terutama ketika hujan deras mengguyur area puncak Merapi.
Petugas pemantau terus bersiaga penuh selama 24 jam untuk mengamati setiap perubahan kecil pada struktur dan dinamika tubuh Merapi. Peninjauan ulang terhadap status kebencanaan akan segera dilakukan jika terjadi penumpukan energi secara mendadak demi menjamin keselamatan warga.