← Beranda
Harga Pupuk Subsidi Turun 20 Persen, Petani Sebut Biaya Usaha Tani Lebih Ringan
Banu Adikara• Jumat, 25 September 2026 | 23.08 WIB
Ilustrasi: PT Pupuk Indonesia (Persero) jaga ketersediaan pupuk subsidi. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi hingga 20% sejak Oktober 2025 dinilai membantu petani mengurangi biaya usaha tani. Selain harga, kemudahan penebusan dan ketersediaan pupuk menjadi faktor penting agar petani dapat memenuhi kebutuhan pemupukan sesuai musim tanam.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi dalam keterangan tertulisnya mengatakan, transformasi perusahaan diarahkan agar efisiensi produksi dan distribusi dapat memberikan manfaat langsung kepada petani.

“Bagi kami, memastikan pupuk tersedia, mudah ditebus, dan terjangkau merupakan bagian dari komitmen kami untuk selalu hadir bersama petani. Berbagai revitalisasi dan transformasi yang kami lakukan tidak berhenti pada peningkatan efisiensi perusahaan, tetapi harus memberikan manfaat nyata di lapangan bagi petani, termasuk melalui harga pupuk yang semakin terjangkau dan akses yang semakin mudah,” katanya.

Baca Juga: Mentan Copot Pejabat di Sulteng karena Hambat Akses Pupuk Subsidi

Rahmad mengatakan dukungan terhadap petani akan terus diarahkan pada ketersediaan, distribusi, dan kemudahan akses pupuk.

“Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk kembali menegaskan bahwa petani adalah bagian penting dari perjalanan Pupuk Indonesia. Kami akan terus memperkuat ketersediaan, distribusi, dan kemudahan akses pupuk, karena ketika petani mendapatkan dukungan yang tepat, mereka dapat semakin optimal menjalankan perannya sebagai garda terdepan ketahanan pangan nasional,” ujar Rahmad.

Penurunan HET tersebut didukung revitalisasi pabrik yang dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan efisiensi produksi. Bagi petani, harga pupuk yang lebih rendah dapat memberikan ruang untuk mengalokasikan biaya ke kebutuhan usaha tani lainnya.

Baca Juga: Pemerintah Tingkatkan Pasokan Asam Sulfat untuk Produksi Pupuk

Toni Afandi dari Kelompok Tani Asahan, Desa Sukatani, Kecamatan Cilamaya Wetan, Karawang, Jawa Barat, mengatakan penurunan harga pupuk membuat petani memiliki ruang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan produksi lainnya.

“Dengan adanya penurunan harga pupuk subsidi tersebut, petani merasa terbantu sekali karena penurunannya sangat efektif dan efisien karena ada penghematan di situ. Sehingga bisa mengurangi cost yang lainnya, artinya yang dari kelebihan selisih harga pupuk itu bisa kita gunakan ke alokasi lain, kita manfaatkan buat yang lainnya seperti untuk pestisida. Kita lihat dari petani-petani lain, dengan adanya penurunan harga jadi lebih semangat lagi untuk meningkatkan usaha tani kita,” ujarnya.

Baca Juga: Kunjungan ke Rusia, Prabowo Bahas Kerja Sama Pupuk hingga Perkapalan dengan Vladimir Putin

Hal serupa disampaikan Ma'ruf Arianto, Ketua Gapoktan Desa Trayu, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Menurutnya, harga pupuk yang lebih rendah turut mengurangi biaya pemupukan.

“Alhamdulillah dengan turunnya harga pupuk subsidi, semua petani itu dapat angin segar dan sangat mengurangi cost untuk pemupukan. Alhamdulillah dari dulu sampai sekarang, baru kali ini pupuk bisa turun, petani lebih ringan lebih sejahtera, lebih semangat lagi buat pemupukan.”

Selain harga, proses penebusan juga disederhanakan melalui sistem digital i-Pubers. Pupuk Indonesia juga menggunakan Command Center untuk memantau penebusan dan kondisi stok hingga tingkat kios.

Hingga 23 September 2026, realisasi penebusan pupuk subsidi tercatat mencapai 6,77 juta ton atau sekitar 69% dari total alokasi 2026.

Ketersediaan pupuk juga menjadi perhatian karena kebutuhan dapat berbeda antarwilayah. Pupuk Indonesia mengandalkan jaringan pelabuhan, armada kapal, dan gudang untuk melakukan realokasi stok sesuai kebutuhan daerah.

Suhardi, petani dari Desa Senakin, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, mengatakan ketersediaan pupuk di wilayahnya dapat mengikuti kebutuhan musim tanam.

“Ketersediaan pupuk subsidi sangat tepat di desa kami. Setelah kami menanam padi dua minggu, pupuknya sudah tersedia, dan pas dua minggu kami memerlukannya, kami bisa memupuk padi kami yang sudah kami tanam. Penebusannya juga lebih mudah sekali, kami bisa menggunakan KTP. Kami bersyukur karena harganya pun terjangkau bagi ekonomi kami di desa,” pungkasnya.

EDITOR: Banu Adikara