JawaPos.com – Sustainability, atau keberlanjutan, kini tak lagi sekadar tuntutan lingkungan dan tanggung jawab sosial, tetapi mulai menjadi bagian dari strategi bisnis untuk meningkatkan efisiensi, menciptakan nilai, dan memperkuat daya saing perusahaan.
Hal itu mengemuka dalam Executive Talkshow Sustainability Is Business: From Urgency to Competitive Advantage yang digelar PPM School of Management di Jakarta, Kamis (3/9). Forum tersebut membahas sustainability dari perspektif pemerintah, korporasi, dan akademisi, termasuk transisi energi, transformasi industri, efisiensi, hingga kepemimpinan.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Yuliot Tanjung mengatakan pengembangan energi baru terbarukan menjadi salah satu isu besar yang harus dihadapi Indonesia. Menurutnya, perusahaan perlu menempatkan sustainability sebagai bagian dari tujuan bisnis.
Baca Juga: Dorong Ekonomi Hijau, Indonesia Sustainability 360 Forum 2026 Gelar Kolaborasi Lintas Sektor
“Grand issue negara adalah energi baru terbarukan. Dalam korporasi, perannya adalah menjadikan sustainability sebagai tujuan mereka. Perusahaan beroperasi menuju profit, people, planet,” ujar Yuliot.
Dari sisi korporasi, Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Pertamina New & Renewable Energy Harsono Budi mengatakan implementasi sustainability membutuhkan perubahan dalam pengelolaan investasi, pengukuran dampak, dan organisasi. Sustainability, menurutnya, perlu diterjemahkan ke dalam proses transformasi perusahaan agar memberikan manfaat nyata bagi bisnis.
Sementara itu, VP Tatalogam Lestari Group of Companies Nicolas Bagus Setiabudi melihat sustainability memiliki kaitan langsung dengan efisiensi. Penerapan prinsip keberlanjutan yang dilakukan secara menyeluruh, menurutnya, dapat bermuara pada program penghematan sekaligus tetap memperhatikan dampaknya terhadap bottom line.
Dari perspektif akademisi, Assistant Professor in Management PPM School of Management Dr. Rike Penta Sitio menyoroti penerapan sustainability melalui ekonomi sirkular. Pendekatan tersebut dapat diintegrasikan secara bertahap ke dalam model bisnis, dengan mempertimbangkan nilai yang dirasakan konsumen dan dukungan ekosistem bisnis.
Meski arah sustainability semakin jelas, tantangan berikutnya adalah memastikan perusahaan memiliki sumber daya manusia yang mampu menerjemahkan prinsip keberlanjutan menjadi strategi dan keputusan bisnis.
Baca Juga: Indonesia Sustainability Award Apresiasi Komitmen ESG dan Pemberdayaan Berkelanjutan PNM
Ketua Sekolah Tinggi Manajemen PPM Dr. Wendra mengatakan perusahaan tidak cukup hanya memahami urgensi sustainability, tetapi juga perlu membangun kemampuan internal untuk mengelolanya sebagai strategi organisasi.
“Urgensi berikutnya bagi perusahaan bukan hanya memahami pentingnya sustainability, tetapi bagaimana membangun kapabilitas internal dalam merencanakan dan mengelola adopsi sustainability sebagai sebuah strategi organisasi untuk daya saing,” ujar Wendra.
Menurutnya, kebutuhan tersebut membuat pengembangan kompetensi manajerial menjadi bagian penting dalam penerapan sustainability. Manajer dituntut mampu menghubungkan agenda keberlanjutan dengan perencanaan, operasional, inovasi, efisiensi, dan pengambilan keputusan strategis.
Perubahan regulasi, tuntutan investor dan konsumen, kebutuhan efisiensi, serta transisi menuju ekonomi rendah karbon membuat sustainability semakin sulit dipisahkan dari strategi perusahaan.
Dengan demikian, keberhasilan sustainability tidak hanya bergantung pada kebijakan atau program perusahaan, tetapi juga pada kapabilitas internal untuk menerjemahkannya menjadi penciptaan nilai dan keunggulan kompetitif.