← Beranda
Tiyasan Berpotensi Jadi Mesin Ekonomi Baru di Sleman, Tak Sekadar Kawasan Kuliner
Rian AlfiantoSelasa, 25 Agustus 2026 | 00.52 WIB
Kawasan Kuliner Tiyasan Sleman berpotensi menjadi mesin ekonomi baru lewat UMKM, kuliner, ruang publik, dan ekosistem ekonomi kreatif. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Kawasan Kuliner Tiyasan di Sinduharjo, Sleman, berpeluang berkembang menjadi salah satu kantong ekonomi kreatif baru di utara Yogyakarta.

Pertumbuhan kuliner, kafe, UMKM, komunitas, dan ruang publik di kawasan ini dinilai dapat menciptakan efek ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat jika dikembangkan dalam satu ekosistem.

Potensi tersebut muncul di tengah pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sleman yang mencapai 6,53 persen pada 2025, sekaligus menjadi pertumbuhan tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Baca Juga: BPMA Percepat Legalisasi Sumur Minyak, Dorong Lifting Migas dan Dampak Ekonomi Aceh

Pemerintah Kabupaten Sleman juga telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2025 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif.

Kondisi itu membuat Tiyasan memiliki peluang untuk mengambil peran sebagai kawasan ekonomi berbasis potensi lokal.

Bukan hanya menjadi tempat makan, tetapi juga ruang yang mempertemukan UMKM, pelaku kuliner, komunitas, dan masyarakat.

Baca Juga: BMKG Deteksi Lonjakan 1.104 Titik Panas di Pulau Sumatra

Ruang Publik dan UMKM Bisa Saling Menguatkan

Kepala Desa Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Sudarja mengatakan, wilayahnya memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan, mulai dari kuliner tradisional, produk olahan, usaha kopi, UMKM hingga ruang publik.

Salah satunya Taman Lohjinawi yang berada tidak jauh dari sentra UMKM.

Menurut Sudarja, ruang publik tersebut dapat dikolaborasikan dengan aktivitas ekonomi agar pengunjung tidak hanya datang untuk berkumpul, tetapi juga berbelanja dan menikmati produk lokal.

“Event Suadesa Festival yang digelar di Tiyasan harapannya dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya dalam membuka ruang bagi kegiatan ekonomi dan kreativitas warga," papar Sudarja.

"Kami berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan secara rutin di Kalurahan Sinduharjo sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat,” ujar Sudarja.

Dia menyatakan, berbagai potensi di Tiyasan tidak berkembang sendiri-sendiri.

Baca Juga: Karhutla Kalbar pada Januari-Agustus Mencapai 38.310 Hektare, Setara 50 Ribu Lapangan Sepak Bola

“Ke depan kami ingin potensi ini tidak berjalan sendiri-sendiri. Ruang publik, kuliner, UMKM, dan kegiatan masyarakat bisa saling terhubung sehingga Tiyasan memiliki daya tarik yang lebih kuat dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi warga,” kata Sudarja.

Jika konektivitas tersebut berhasil dibangun, Tiyasan berpeluang tumbuh bukan sekadar sebagai kawasan kuliner, melainkan sebagai ekosistem ekonomi lokal yang mampu memperluas pasar UMKM, menciptakan aktivitas usaha, dan membuat perputaran ekonomi Sleman semakin tersebar ke tingkat kawasan.

Efek Ekonomi Tak Berhenti di Pelaku Kuliner

Corporate Secretary PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) Fajriyah Usman mengatakan, kekuatan kawasan seperti Tiyasan terletak pada kemampuan menghubungkan berbagai potensi ekonomi.

Baca Juga: Kabut Asap Ganggu Enam Penerbangan, Go Around hingga Dialihkan dari Bandara Supadio Kalbar

“Pertumbuhan ekonomi lokal tidak hanya ditentukan oleh semakin banyaknya usaha yang muncul, tetapi juga bagaimana berbagai potensi tersebut dapat saling terhubung dan menciptakan ekosistem yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat," terang Fajriyah Usman.

"Tiyasan memiliki modal tersebut melalui perkembangan kuliner, UMKM, komunitas, dan ruang publik,” ujar Fajriyah melalui keterangannya.

Jika semakin banyak pengunjung datang ke Tiyasan, dampaknya berpotensi dirasakan bukan hanya oleh pemilik restoran atau kedai.

Baca Juga: BNPB Sebar Puluhan Helikopter untuk Atasi Karhutla Sumatera-Kalimantan

Perputaran uang juga dapat mengalir kepada pemasok bahan baku, pekerja, pelaku UMKM, jasa pendukung, hingga usaha kecil di sekitar kawasan.

Karena itu, tantangan Tiyasan bukan sekadar mendatangkan keramaian, tetapi menjaga agar aktivitas tersebut menciptakan kunjungan dan transaksi secara berkelanjutan.

“Ketika pelaku UMKM, usaha kuliner, komunitas, dan masyarakat memiliki ruang untuk bertemu dan berkolaborasi, akan muncul peluang untuk mengembangkan kegiatan ekonomi baru. Kami melihat potensi tersebut dapat terus diperkuat di Tiyasan,” jelas Fajriyah.

Salah satu momentum untuk memperkenalkan potensi tersebut adalah Suadesa Festival 2026 pada 22–23 Agustus, melibatkan 40 pelaku UMKM dan 75 pelaku seni, dengan target sekitar 1.200 pengunjung per hari.

Baca Juga: 86 Persen BTS Terdampak Gempa NTT Pulih, Komdigi Kejar 111 Site yang Masih Gangguan

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah