JawaPos.com - Taman Soekasada Ujung di Kabupaten Karangasem, Bali, kembali menjadi ruang pertemuan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya Indonesia. Pada 12 Agustus 2026, kawasan bersejarah tersebut menjadi lokasi penyelenggaraan Anugerah Soekasada 2026, malam apresiasi bagi tokoh yang dinilai memiliki kepedulian dan kontribusi terhadap keberlangsungan warisan budaya bangsa.
Acara yang diselenggarakan Citra Kartini Indonesia (CIRI) tersebut mempertemukan berbagai kalangan. Hadir keluarga kerajaan dan puri Nusantara, pejabat pemerintah dan kementerian, pimpinan lembaga negara termasuk Wakil Ketua MPR RI, tokoh budaya, seniman, artis, selebriti nasional, hingga masyarakat yang memiliki perhatian terhadap sejarah dan kebudayaan Indonesia.
Keberagaman tamu yang hadir menggambarkan bahwa pelestarian warisan budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab kelompok tertentu. Upaya menjaga budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan dapat dilakukan lintas generasi, profesi, maupun institusi.
Ayu Heni Rosan dan Lestari Moerdijat Dapat Penghargaan
Pada penyelenggaraan tahun ini, Anugerah Soekasada memberikan apresiasi kepada dua perempuan Indonesia yang dinilai memiliki kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya. Mereka adalah Ayu Heni Rosan dan Lestari Moerdijat.
Ayu Heni Rosan, istri Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM RI sekaligus CEO BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani, menerima penghargaan atas perhatian dan kontribusinya terhadap budaya Indonesia. Ia juga memiliki darah Bali dan berasal dari keluarga bangsawan di Jembrana.
Perhatian Ayu Heni terhadap budaya diwujudkan melalui seni, budaya, dan wastra. Berbagai kekayaan tradisi Nusantara digunakan sebagai bagian dari cultural soft diplomacy untuk memperkenalkan identitas Indonesia sekaligus membangun jembatan persahabatan antarbangsa.
Sementara itu, penghargaan juga diberikan kepada Lestari Moerdijat, budayawati sekaligus Wakil Ketua MPR RI. Ia dinilai konsisten mendorong upaya pelestarian kebudayaan dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga identitas serta warisan budaya Indonesia.
Kedua penerima penghargaan tersebut merepresentasikan peran perempuan dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan. Peran itu bukan hanya berkaitan dengan merawat peninggalan masa lalu, tetapi juga memastikan nilai, pengetahuan, sejarah, dan identitas yang melekat pada warisan tersebut dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Taman Soekasada Ujung sebagai Living Heritage
Pemilihan Taman Soekasada Ujung sebagai lokasi Anugerah Soekasada memiliki makna tersendiri. Kawasan tersebut ingin dikembangkan bukan sekadar sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga sebagai living heritage, yakni ruang budaya yang terus hidup dan mampu mempertemukan warisan masa lalu dengan masyarakat masa kini.
Taman Soekasada Ujung dibangun pada masa pemerintahan Raja Karangasem Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Kompleks tersebut menjadi salah satu saksi perjalanan sejarah Karangasem sekaligus memperlihatkan pertemuan beragam pengaruh arsitektur dan kebudayaan.
Perpaduan berbagai unsur tersebut membentuk karakter Taman Soekasada Ujung hingga saat ini. Karena itu, kawasan tersebut dinilai memiliki posisi penting dalam upaya memperkenalkan sejarah dan kekayaan budaya Bali kepada masyarakat luas.
Melalui Anugerah Soekasada, penghargaan diberikan bukan semata berdasarkan jabatan, kedudukan, atau popularitas seseorang. Fokus utamanya adalah kepedulian serta kontribusi nyata terhadap keberlangsungan warisan budaya Indonesia.
"Warisan budaya tidak cukup hanya kita banggakan. Ia harus dijaga, dirawat, diperkenalkan kembali, dan yang terpenting, diwariskan. Melalui Anugerah Soekasada, kami ingin menyampaikan penghargaan kepada mereka yang memilih untuk ikut mengambil bagian dalam perjalanan tersebut."
Mempertemukan Sejarah, Seni, dan Generasi Masa Kini
Malam Anugerah Soekasada 2026 sekaligus menjadi momentum pertemuan berbagai unsur yang memiliki peran dalam kehidupan kebudayaan Indonesia. Sejarah, seni, pemerintahan, tokoh masyarakat, dan komunitas budaya bertemu dalam suasana Taman Soekasada Ujung yang memiliki nilai historis kuat.
Penyelenggaraan penghargaan tersebut juga diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai arti penting pelestarian budaya. Warisan budaya tidak hanya dipandang sebagai peninggalan yang harus disimpan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang dapat terus dikembangkan.
Generasi muda menjadi salah satu kelompok yang diharapkan semakin terlibat dalam proses tersebut. Dengan mengenal sejarah dan memahami nilai yang terkandung di dalamnya, generasi penerus dapat ikut menjaga keberadaan warisan budaya sekaligus memberikan interpretasi baru sesuai perkembangan zaman.
Pelestarian budaya pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang masa lalu. Yang lebih penting adalah bagaimana warisan tersebut tetap memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat dan dapat menjadi bagian dari masa depan Indonesia.
Anugerah Soekasada 2026 membawa pesan bahwa keberlangsungan warisan budaya membutuhkan kepedulian yang terus dijaga. Selama masih ada individu dan kelompok yang bersedia merawat, memperkenalkan, serta mewariskannya kepada generasi berikutnya, budaya Indonesia akan tetap hidup.