← Beranda
Bawa Pangan Lokal Berbasis Hutan ke Ubud Food Festival 2026
Dinarsa KurniawanRabu, 3 Juni 2026 | 19.41 WIB
Perempuan Penjaga Hutan dan Helianti Hilman dari Javara dalam talkshow di Ubud Food Festival. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Kisah perempuan penjaga hutan dari berbagai daerah di Indonesia hadir di panggung internasional melalui Ubud Food Festival (UFF) 2026. Mereka membawa produk pangan berbasis hutan, pengetahuan lokal, serta pengalaman menjaga kelestarian lingkungan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

"Bagi kami, hutan dan pangan itu saling terhubung. Dari hutan, kami mendapatkan makanan, penghasilan, dan kebutuhan sehari-hari," ujar Susi Hermaliah, perempuan penjaga hutan asal Sumatera Selatan.

Keterlibatan mereka berlangsung dalam UFF 2026 yang digelar di Ubud, Bali, pada 28–31 Mei 2026. Festival kuliner tahunan tersebut menghadirkan pelaku kuliner Indonesia dan mancanegara dengan tema Farmers: Guardians of Land and Sea, yang mengangkat peran komunitas lokal dalam menjaga keberlanjutan pangan dan lingkungan.

Sebanyak enam perempuan yang tergabung dalam program Women Forest Defenders (WFD) ikut berpartisipasi dalam berbagai agenda festival. Mereka berasal dari Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta terlibat dalam pop-up market, demonstrasi memasak, jamuan gastronomi bertajuk Puan Rimba, hingga talkshow yang membahas keterkaitan antara pangan, hutan, dan keberlanjutan.

Produk yang diperkenalkan berasal dari Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) perempuan yang mengembangkan aneka pangan lokal berbasis hasil hutan non-kayu dan pengetahuan komunitas setempat.

Menurut Susi, keberlangsungan hutan memiliki hubungan langsung dengan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

"Kalau hutan tetap terjaga, keluarga kami juga bisa hidup lebih baik dan ekonomi masyarakat bisa terus berjalan," katanya.

Selama festival berlangsung, para perempuan penjaga hutan mengajak pengunjung mengenal berbagai bahan pangan hutan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. Melalui pendekatan kuliner, mereka memperlihatkan bagaimana kelestarian alam berkaitan erat dengan budaya dan ketahanan pangan.

Country Representative The Asia Foundation Indonesia, Hana Satriyo, mengatakan keberadaan perempuan penjaga hutan menunjukkan bahwa kawasan hutan memiliki fungsi yang jauh lebih luas dibanding sekadar ruang konservasi.

"Melalui Ubud Food Festival, publik dapat melihat bahwa kerja menjaga hutan juga berkaitan langsung dengan keberlanjutan pangan, budaya, dan masa depan komunitas," ujarnya.

Partisipasi WFD dalam UFF 2026 mendapat dukungan dari The Asia Foundation bersama Perkumpulan Seniman Pangan Indonesia dan Javara. Kolaborasi tersebut menghadirkan ruang bagi produk, pengetahuan, dan cerita dari komunitas perempuan penjaga hutan untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas, termasuk pelaku industri kuliner nasional.

Program Women Forest Defenders sendiri menjadi salah satu upaya untuk mendorong pengelolaan hutan yang lebih inklusif sekaligus membuka peluang lebih besar bagi kepemimpinan perempuan dalam menjaga sumber daya alam dan mengembangkan ekonomi berbasis komunitas.

EDITOR: Dinarsa Kurniawan