← Beranda
Bukan Seremonial Belaka, Festival Kreatif Dinilai Jadi Ruang Baru Literasi dan Inklusivitas
Banu Adikara• Jumat, 22 Mei 2026 | 23.23 WIB
Ilustrasi: Industri kreatif Indonesia sudah berkembang menjadi ruang untuk membangun kesadaran sosial, budaya, hingga inklusivitas. (Istimewa)

 

JawaPos.com — Industri kreatif Indonesia dinilai tidak lagi sekadar menghadirkan hiburan atau acara seremonial, tetapi mulai berkembang menjadi ruang untuk membangun kesadaran sosial, budaya, hingga inklusivitas di tengah masyarakat.

Fenomena tersebut terlihat dari munculnya berbagai festival dan kegiatan kreatif yang mengangkat isu literasi budaya, pelestarian cerita rakyat, hingga pemberdayaan kelompok disabilitas.

Salah satu inisiatif yang belakangan mendapat perhatian publik adalah rangkaian festival storytelling Suara Nusantara yang mengajak generasi muda kembali mengenal cerita rakyat daerah melalui pendekatan kreatif dan digital.

Baca Juga: Ketersediaan Energi Global Masih Tak Stabil, Pemerintah Terus Dorong Pasokan Gas demi Jaga Produktivitas Pertanian Nasional

Managing Director Navaswara Bhuwana Kencana, Cahaya Manthovani menuturkan bahwa kegiatan tersebut lahir dari keresahan terhadap semakin berkurangnya ruang interaksi sosial dan budaya di kalangan anak muda akibat dominasi penggunaan gawai.

“Peserta bukan hanya diminta tampil mendongeng, tetapi juga membaca, memahami, dan menghidupkan kembali cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia,” kata Cahaya.

Ia menilai, pendekatan kreatif dapat menjadi cara yang lebih dekat dengan generasi muda untuk membangun rasa percaya diri sekaligus memperkuat keterhubungan dengan budaya lokal.

Selain isu literasi budaya, sejumlah kegiatan kreatif juga mulai menaruh perhatian pada isu inklusivitas. Melalui berbagai program sosial dan festival komunitas, ruang interaksi antara masyarakat umum dan penyandang disabilitas dinilai semakin terbuka.

Baca Juga: Jalur Stasiun Pasar Senen Normal Lagi, Cek Daftar Kereta Api yang Alami Keterlambatan Parah

Salah satu program yang sempat digelar di Banten melibatkan pelaku UMKM dalam penyediaan makanan bergizi bagi sekolah khusus dan anak-anak disabilitas. Kegiatan tersebut juga menjadi contoh kolaborasi antara komunitas, sektor usaha, dan pegiat sosial.

Menurutnya, kolaborasi menjadi faktor penting dalam menciptakan dampak sosial yang lebih luas melalui industri kreatif. 

“Peradaban tidak bisa berubah tanpa kerja sama dengan banyak pihak. Karena itu, kegiatan kreatif juga perlu melibatkan komunitas, sektor usaha, dan masyarakat,” tutupnya.

 

EDITOR: Banu Adikara