← Beranda
Kehadiran Dapur MBG Unhas Dinilai jadi Acuan Keterlibatan Kampus dalam Program Prioritas Nasional
Muhammad RidwanSenin, 4 Mei 2026 | 21.13 WIB
Penampakan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Pendirian dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, dinilai dapat menjadi acuan lingkungan perguruan tinggi di Indonesia, sekaligus menjadi tonggak penting keterlibatan kampus dalam mendukung program prioritas nasional.

Mengingat, peresmian dapur MBG tersebut secara langsung dihadiri oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, serta didampingi oleh Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa.

"Ini bukan hanya dapur dalam pengertian operasional. Ini adalah laboratorium hidup. Di sinilah ilmu, riset, inovasi, dan praktik bertemu dalam satu ekosistem yang utuh,” kata Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), Abdul Rivai Ras, kepada wartawan, Senin (4/5).

Ia menjelaskan, pendekatan yang dilakukan Unhas mencerminkan model ideal yang selama ini menjadi tantangan dalam banyak program pembangunan, yakni menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan realitas implementasi di lapangan.

Baca Juga: Jerman Tekan Iran Segera Buka Selat Hormuz, Takut dengan Ancaman Amerika?

Kehadiran dapur MBG tersebut dapat melibatkan mahasiswa, peneliti, dan praktisi yang tidak lagi bekerja dalam ruang terpisah, tetapi berada dalam satu siklus untuk saling menguatkan, mulai dari perumusan konsep, pengujian, hingga implementasi dan evaluasi secara langsung.

“Selama ini kita sering melihat riset berhenti di meja akademik, sementara praktik berjalan tanpa basis ilmiah yang kuat. Model seperti ini memutus mata rantai tersebut. Apa yang diteliti langsung diuji, dan apa yang dijalankan langsung bisa diperbaiki secara ilmiah,” tuturnya.

Abdul Rivai juga menekankan pola seperti ini telah lama menjadi praktik terbaik di berbagai negara maju, di mana institusi pendidikan tinggi terhubung erat dengan pusat produksi dan inovasi.

“Ketika pusat pembelajaran berdiri berdampingan dengan pusat produksi, maka proses inovasi menjadi jauh lebih cepat, adaptif, dan terukur. Ini yang kita lihat mulai dibangun di Unhas melalui dapur MBG,” bebernya.

Lebih jauh, ia menilai inisiatif ini juga memperkuat peran perguruan tinggi sebagai aktor pembangunan, bukan hanya sebagai penghasil lulusan, tetapi sebagai motor penggerak solusi konkret bagi masyarakat.

Karena itu, ia meyakini dapur MBG Unhas memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan standar, sistem, dan model operasional MBG yang dapat direplikasi secara nasional.

“Kalau kita ingin program MBG ini berhasil secara sistemik dan berkelanjutan, maka kita membutuhkan model-model seperti ini. Bukan hanya sekadar memperbanyak dapur, tetapi memastikan bahwa setiap dapur memiliki basis keilmuan, standar mutu, dan sistem yang teruji,” tegasnya.

Baca Juga: Ramalan Karier dan Pekerjaan Zodiak Besok Selasa 5 Mei 2026: Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius dan Pisces

Ia pun memastikan siap mendorong kolaborasi lebih luas antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku usaha dalam mengembangkan ekosistem MBG yang berbasis riset dan inovasi.

Ia berharap, model yang dikembangkan Unhas dapat menjadi rujukan nasional dalam pengembangan dapur MBG di berbagai daerah, sehingga program ini tidak hanya berjalan secara kuantitatif, tetapi juga berkualitas dan berdampak jangka panjang.

“Ini adalah contoh bagaimana kebijakan publik bertemu dengan keunggulan akademik. Dan ketika keduanya berjalan bersama, maka kita tidak hanya menjalankan program, tetapi membangun sistem yang kuat untuk masa depan,” pungkasnya.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan