Dalam rekaman tersebut, suara gemuruh hebat terdengar saat reruntuhan material menghantam akses terowongan proyek. Area kerja yang biasanya sibuk langsung tertutup material longsor dalam sekejap.
Camat Rongga, Asep Badrup Muin, mengonfirmasi bahwa musibah ini terjadi pada Jumat (1/5) siang. Cuaca ekstrem disinyalir menjadi penyebab utama pergerakan tanah di kawasan tersebut.
Baca Juga: Diesel Melonjak Tajam! SPBU Swasta Kompak Naikkan Harga, Tembus Rp 30 Ribu
"Kejadian longsornya tadi siang sekitar jam 14.00 WIB. Sebelumnya memang ada hujan cukup besar sehingga diduga memicu kejadian longsor," ujarnya dikutip JawaPos.com dari Radar Bandung (JawaPos Group), Sabtu (2/5).
Beruntung, saat material bukit itu runtuh, tidak ada pekerja yang berada di lokasi kejadian. Alur koordinasi yang cepat memastikan area terdampak dalam posisi aman dari aktivitas manusia.
Pihak berwenang memastikan bahwa insiden ini hanya menyebabkan kerugian material dan tidak menimbulkan korban jiwa. Hal ini dikarenakan jadwal pengerjaan proyek sedang dihentikan sementara.
"Sudah kami pastikan tidak ada korban dalam peristiwa itu. Karena kebetulan hari ini memang hari libur proyek," tambahnya.
Baca Juga: Pesan Prabowo untuk Perusahaan yang Menyerah di Tengah Krisis Global, Negara Ambil Alih
Secara spesifik, titik longsor berada di Pasir Bukit Datar, tepatnya di Kampung Cimarel, Desa Sukaresmi, Kecamatan Rongga. Dampak terparah terlihat pada area infrastruktur vital proyek pembangkit listrik tersebut.
"Titik longsornya di area proyek tunnel. Area CTY atau TTO Tailrace Tunnel Outlet. Sekarang masih proses asesmen. Nanti lebih lengkapnya ditunggu ya," terangnya.
Hingga saat ini, tim terkait masih melakukan pemantauan di lokasi untuk mencegah adanya longsor susulan, mengingat intensitas hujan di wilayah Bandung Barat masih cukup tinggi.