← Beranda
Cerita Karyawan Difabel Pabrik HS, Dari Sering Didiskriminasi Kini Bisa Lunasi Utang
Sabik Aji TaufanJumat, 24 April 2026 | 23.03 WIB
Ilustrasi pekerja di Pabrik HS. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Jari-jari itu terus bergerak mengarah ke depan dan ke belakang membentuk seperti selongsong demi menghasilkan produk tembakau sesuai standar. Tanpa fungsi telinga dan suara keahlian itu tetap ada.

Tangan itu menjadi tulang punggung demi rupiah dari hasil melinting dan mengepak batangan rokok di Pabrik HS Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Suasana hening, bukan karena tak ada orang, melainkan mulut itu tak biasa bersuara sejak lahir. 

Riak-riak suara hanya terdengar dari tengah ruangan, tempat karyawan lain bekerja. Di situ bukan pekerja difabel, sehingga bisa bercerita sambil bekerja.

Keterbatasan itu, tak membuat Shinta, 34, patah arang. Dia memanfaatkan betul kesempatan untuk bekerja ini. Bersama 70 karyawan difabel lainnya, dia tetap bekerja sebaik mungkin.

Baca Juga: Gaspol Kendaraan Listrik! Mendagri Instruksikan Pajak EV Nol Rupiah

Di bawah sinar lampu berwarna putih, Shinta menceritakan pedihnya mencari kerja. Sebagai penyandang tunawicara dan tunarungu, dia mendapat banyak stigma negatif.

"Dulu sulit sekali mencari kerja. Berkali-kali melamar, tapi selalu ditolak. Kebanyakan mereka meragukan kemampuan kami hanya karena kami berbeda. Menganggap kami tidak mampu tanpa pernah diberi kesempatan," ucapnya lirih.

Ibu satu anak ini masih ingat betul sakitnya penolakan kerja yang sering dialaminya. Situasi ini pun perlahan menjadi haru ketika diterima bekerja di pabrik HS.

"Tapi di pabrik rokok HS ini, saya seperti menemukan kehidupan baru. Tidak hanya diterima kerja tanpa syarat dan pengalaman, tapi kami juga dihormati dan dihargai tanpa dibedakan," imbuhnya.

Dunia terus berputar, begitu kata Shinta. Seperti yang dialaminya dulu saat membuka usaha batik kecil-kecilan. Bangkrut, lalu harus berutang ke bank.

"Akhirnya untuk memenuhi kebutuhan, saya hutang ke bank," katanya.

Tak ada pilihan lain bagi Shinta sebagai tulang punggung keluarga untuk terus berjuang. Saat roda itu perlahan berputar menuju atas, Shinta perlahan melunasi utang-utangnya. Tersisa sedikit demi sedikit untuk ditabung.

Kini dia hanya ingin terus berjuang. Di tempat baru itu pengharapan tampak jelas. "Bahkan, HS akan membuatkan mess khusus karyawan disabilitas, itu yang membuat kami nyaman bekerja di sini," pungkasnya.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan