← Beranda
Tiap Hari Olah 50 Ton Sampah Organik, Djarum Foundation Bagikan Kompos dan Bibit Tanaman untukk Warga Kudus
Ali MahrusKamis, 26 Maret 2026 | 22.25 WIB
Dua karyawan merawat bibit tanaman sebelum diambil warga Kudus. (M. Ali Mahrus/Jawa Pos)

 

JawaPos.com–Sampah. Kotor, bau, sumber penyakit. Tapi kalau diolah dan ditangani dengan benar sampah bisa membawa banyak manfaat.

Setiap hari, dari pukul 07.00 hingga 15.00 WIB, truk-truk milik Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) mondar-mandir. Mengambil sampah organik dari hotel, sekolah, rumah sakit, katering, rumah makan, hingga perusahaan. Tak ada biaya. Truk-truk tersebut kemudian menuju kawasan Djarum Oasis Kretek Factory di Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus, Jawa Tengah.

BLDF membangun Pusat Pengolahan Organik (PPO) pada 2018. Di PPO, sampah organik didaur ulang menjadi pupuk organik. Pada area seluas 11 hektare, tiap hari sekitar 50 ton sampah organik dari wilayah Kudus diolah menjadi kompos melalui proses fermentasi selama 6 bulan.

Baca Juga: Banjir Brebes Rendam 6 Desa, 7.536 KK Terdampak, 48 Orang Dievakuasi

Jumlah sampah yang diolah tiap hari di fasilitas ini mencapai sekitar 10 persen volume sampah harian Kabupaten Kudus. RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kabupaten Kudus pada 2018-2023 mencatat volume sampah harian mencapai 552 meter kubik atau 445,9 ton. 60 persen di antaranya merupakan sampah organik.

”Sejauh ini kami memiliki sekitar 400 mitra. Kami ada sepuluh truk yang setiap hari mengambil sampah organik ke berbagai instansi seperti hotel, rumah sakit, katering, sekolah, rumah makan, perusahaan dan lainnya,” ujar Staf Pusat Pengolahan Organik Bakti Lingkungan Djarum Foundation Timothy Ariel Saputra.

Kompos yang diproduksi bisa diambil gratis oleh masyarakat ber-KTP Kudus. Satu warga, dalam waktu 3 bulan sekali bisa mengambil 2 karung kompos dan 2 bibit tanaman. Pihak-pihak lain di Kudus bisa mendapatkan jumlah bibit dan kompos dalam jumlah lebih banyak dengan mengajukan proposal.

Baca Juga: Banjir Ketanggungan Rabu Malam Disebut Tertinggi Selama 20 Tahun, Capai 2,5 Meter

”Ketika bicara bibit, akan lebih baik jika ada pupuk. Pengolahan sampah organik kami menjadi sinergi yang otomatis mendukung kebutuhan pembibitan dan penghijauan,” jelas Deputy Program Manager BLDF Prinsa Paruna.

Ya, selain dibagikan secara gratis, kompos juga digunakan untuk campuran media tanam dan memupuk bibit-bibit tanaman di Pusat Pembibitan Tanaman yang berlokasi sama dengan PPO terbesar di Indonesia itu. Ada lebih dari 400 jenis tanaman yang bisa diambil secara cuma-cuma oleh warga Kudus. Selain dibagikan kepada warga, bibit-bibit juga ditanam untuk menghijaukan banyak area.

Di antara yang banyak dibagikan dan ditanam adalah pohon trembesi. Kenapa trembesi? Sebab, pohon ini bisa menyerap CO2 cukup banyak. Satu pohon dengan diameter tajuk 15 meter, dapat menyerap hingga 28,5 ton gas CO2 per tahun.

Melansir dari www.djarumtreesforlife.org, hingga Juli 2025 sebanyak 203.641 pohon trembesi sudah ditanam di 23.225 km jalan nasional dan jalan tol di Jawa, Sumatera, dan Lombok. Dengan kemampuan daya serap karbon, satu pohon trembesi diperkirakan mampu menyerap gas karbon yang dihasilkan oleh 15 orang. Diperkirakan, 203.641 pohon trembesi yang sudah tertanam berpotensi menyerap sekitar 5,28 juta ton karbon per tahun.

Seperti yang termaktub pada laman www.djarumtreesforlife.org, Jika bumi adalah Ibu, pohon adalah anak tercintanya. Begitulah kami memandang pepohonan. Memupuknya untuk berkembang baik. Memeliharanya agar kuat penuh manfaat. Melestarikannya agar tegak bertahan dan menyebar kebaikan.

Apa yang dilakukan BLDF adalah oase di Tengah kondisi bumi yang semakin menderita saat ini.

Baca Juga: Banjir Brebes, Arus Lalu Lintas di Jalur Ketanggungan–Pejagan Sempat Tak Bisa Dilalui

Siap Darling Ajak Gen Z dan Mahasiswa Hijaukan Kawasan Cagar Budaya

Gerakan peduli lingkungan terus digaungkan pada kalangan muda. Melalui program Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan), Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) mengajak generasi Z dan mahasiswa turun langsung menjaga kelestarian alam.

Sejak digulirkan pada November 2018, program ini memadukan kampanye digital dengan aksi nyata di lapangan. Slogan Aku Siap SadarLingkungan, Kalian Juga, Kan? menjadi ajakan terbuka bagi anak muda untuk terlibat.

Kegiatan digelar di berbagai kawasan bersejarah dan wisata alam. Di antaranya Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan, Museum R.A. Kartini, Kebun Raya Bogor, Taman Wisata Alam Kawah Ijen, hingga Kawasan Percandian Muarajambi. Penghijauan juga dilakukan di sejumlah kompleks percandian seperti Candi Prambanan dan kawasan Dataran Tinggi Dieng.

Baca Juga: Kalaksa BPBD Jatim Turun Langsung, Banjir Pasuruan Disebut Paling Parah

Puluhan ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa, Bali, Lombok, dan Sumatra telah terlibat. Mereka tergabung dalam komunitas relawan yang dikenal sebagai Darling Squad.

Aksi yang dilakukan meliputi penanaman pohon, plogging (olahraga sambil memungut sampah), hingga gerakan One Action One Tree (OAOT). Ribuan bibit telah ditanam, mulai dari cemara, kemuning, soka, kapulaga, hingga tanaman lokal yang disesuaikan dengan karakter kawasan.

Program ini menargetkan tumbuhnya kesadaran lingkungan di kalangan muda sekaligus mendukung pelestarian kawasan bersejarah dan ekosistem yang mengalami degradasi.

Baca Juga: Pasutri di Aceh Ditemukan Tewas di Mobil Saat Istirahat Mudik di Pidie Jaya

”Sejak diluncurkan, gerakan Siap Darling telah menginisiasi sejumlah aksi positif yaitu Candi Darling lewat penanaman pohon dan Semak berbunga di berbagai situs warisan sejarah agar generasi muda dapat berkontribusi melalui giat pelestarian lingkungan dan sekaligus mencintai situs warisan sejarah Indonesia. Kami berharap Gerakan menanam ini dapat menginspirasi serta melibatkan lebih banyak mahasiswa untuk lebih peduli pada lingkungan dan menjaga warisan sejarah dalam jangka panjang,” kata Director of Communications Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara seperti dikutip dari www.djarumfoundation.org.

Lewat Siap Darling, gerakan hijau diharapkan tak berhenti sebagai kampanye, melainkan menjadi kebiasaan generasi muda.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah