JawaPos.com - Pemandangan berbeda terlihat pada prosesi pergantian jubah Kongco Tan Hu Cin Jin jelang Tahun Baru Imlek Minggu (4/2).
Dilaporkan dari Radar Banyuwangi (JawaPos Grup) Rabu (7/2), selang puluhan tahun hanya memakai jubah Kuning dan Merah, arca (patung) sosok yang dipuja warga keturunan Tionghoa di Banyuwangi tersebut akhirnya mengenakan jubah berwarna hitam.
Jubah hitam hampir tidak pernah dipakai karena sebagian umat Tri Dharma yang beribadah di Klenteng Hoo Tong Bio meyakini bahwa jubah hitam hanya boleh dipakai pada saat darurat.
Selama ini Kongco hanya berganti jubah berwarna merah atau kuning.
Ketua Tri Dharma Tempat Ibadah (TITD) Hoo Tong Bio Sylvia Ekawati mengatakan, pergantian warna gamis dari kuning menjadi hitam dilakukan sesuai kesepakatan pengurus.
Selama ini jubah hitam hanya dikenakan saat situasi genting. Sylvia mengatakan bahwa, tahun ini Indonesia sedang dalam situasi politik. Karena itu, pihak manajemen akhirnya sepakat menggunakan jubah hitam untuk menetralisir situasi agar situasi tetap aman.
“Biasanya ada Pwapewe (Pak Pui) yang menentukan warna gamis yang dipakai Kongco. Namun kali ini pihak manajemen sepakat menggunakan warna hitam,” jelas Sylvia.
Sylvia berharap, dengan mengenakan jubah hitam, kedamaian menyelimuti Banyuwangi dan Indonesia dalam suasana politik saat ini.
Untuk menjaga suasana Banyuwangi yang kondusif, Sylvia mengatakan bahwa, tidak akan ada perayaan Imlek yang berlebihan di wilayah tersebut.
Atraksi Barongsai yang biasa diadakan, tahun ini dibatalkan. Menurut Sylvia, masyarakat Tionghoa penganut Tri Dharma akan lebih banyak berfokus untuk beribadah bersama dengan berdoa dan makan di pura.
“Tahun ini sederhana saja, kami ingin semua berjalan kondusif. Kita doakan agar Banyuwangi terhindar dari hal-hal buruk,” kata Sylvia.
Wali TITD Hoo Tong Bio Soegianto menambahkan, "yang Mulia Kongco sudah lama tidak mengenakan jubah hitam".
Pria berusia 72 tahun itu bahkan mengaku tak ingat kapan terakhir kali mengenakan jubah hitam.
Soegianto pun membenarkan, warna gamis kali ini tidak ditentukan oleh prosesi Pwapewe.
Pengelola klentenglah yang menentukan warna apa yang akan digunakan pada tahun ini.
“Kami selalu menyiapkan jubah hitam, tapi tidak pernah memakainya. Kali ini digunakan karena sedang tahun politik,” jelasnya.
Namun sebagai jamaah Klenteng dan penganut Tri Dharma, pria bernama Tionghoa Oei Penggi ini meyakini tidak ada hal buruk yang terjadi di tahun ini.
Soegianto sangat yakin semua prosesi Imlek di Banyuwangi akan berjalan lancar. Termasuk setelah pemilu.
“Kami tidak hanya mendoakan masyarakat Banyuwangi saja, tapi masyarakat Indonesia juga. Kami yakin aman,” kata Soegianto.
Sementara itu, selain membersihkan puluhan patung yang ada di kelenteng, pengurus dan anggota Hoo Tong Bio kemarin juga melakukan penggantian lampion yang sudah dipasang.
Lampion tersebut diganti dengan yang baru setelah satu tahun dipasang di langit-langit Klenteng. Selain lampion, juga terdapat puluhan lilin berukuran besar sumbangan jamaah untuk dipasang di pura.
Soegianto mengatakan bahwa, baik lilin maupun lampion memiliki makna harapan bagi pengirimnya. Menurutnya, lilin yang menyala akan memberikan penerangan bagi masyarakat selama setahun.
Baca Juga: Wakapolres Bandara Soetta Minta Jajarannya Tetap Netral dalam Pengamanan TPS
Begitu pula dengan lampion berwarna merah yang melambangkan kebahagiaan masyarakat hingga Tahun Baru Imlek tahun depan.
“Setiap lilin dan lentera mempunyai nama. Jadi, masih ada harapan atas doa dari orang-orang yang mengirimkannya.Tidak hanya dari Banyuwangi, ada juga dari luar kota seperti Surabaya dan Jakarta,” ujarnya.