Garwadalem Kangjeng Gusti Ratu Mas, dua putri Sinuhun, dan seorang cucunya juga hadir beserta sejumlah pangeran sepuh. Berangkat dari Sasono Poernomo, Surakarta Hadiningrat, ritual diawali dengan Wilujengan Pepak Ageng oleh abdi dalem ngulama, dipimpin oleh Kanjeng Raden Haryo Tumenggung Dwijo Adiprojo. Setiba di Parangendog, doa kembali dihaturkan, kali ini oleh abdi dalem Keputren, Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Wahyupuspito.
Panembahan Pakoenegoro memimpin para abdi dalem melarung dua kendaga (peti) dan sejumlah sesajen, melintasi garis bibir pantai. Ombak seketika tenang tatkala itu. Setelah Panembahan Pakoenegoro membaca doa, ombak kembali datang.
’’Berbeda dengan ritual-ritual rutin lain dalam kalender kegiatan Keraton Surakarta, Labuhan Tutupan Suro diadakan hanya jika ada dhawuh dalem atau perintah Sinuhun,” jelas Panembahan Pakoenegoro yang bernama asli Raden Mas Candra Malik dalam keterangan tertulis.
Menurut dia, Labuhan di Parangendog itu diadakan untuk memperingati perjumpaan Raja Pertama Mataram Islam Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kencana Sari yang termasyhur dengan Ratu Laut Selatan. "Pesan Sinuhun, kita wajib iman kepada yang gaib sebagaimana dalam QS Al Baqarah ayat 3 dan menghormati sesama makhluk Allah,” katanya.