← Beranda
Yang Terbit, Yang Tenggelam
Tazkia Royyan HikmatiarJumat, 24 April 2026 | 22.53 WIB
Pameran sastra bertajuk “Yang Terbit, Yang Tenggelam: 60 Tahun Majalah Horison” digelar di Galeri PDS H.B. Jassin, Lantai 4 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki. (Dispusip Jakarta)

 

JawaPos.com - Majalah sastra Horison melewati perjalanan panjang. Proses itu mencerminkan sejarah pemikiran, pergulatan estetik, dan jejak intelektual yang membentuk wajah Sastra Indonesia. 

Pendapat itu diungkap oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta Nasruddin Djoko Surjono di sela pameran sastra bertajuk “Yang Terbit, Yang Tenggelam: 60 Tahun Majalah Horison” di Galeri PDS H.B Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. pada Jumat (24/4).

Pameran oti merupakan hasil kolaborasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Perpustakaan Jakarta, serta Pusat Dokumen Sastra (PDS) H.B. Jassin. 

Kegiatan yang terbuka untuk publik itu merupakan upaya memperluas akses masyarakat terhadap khazanah sastra Indonesia sekaligus menandai 60 tahun perjalanan Horison.

Baca Juga: Universitas Al Azhar Kairo Buka Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Kemendikdasmen Apresiasi

Djoko Surjono mengatakan, pameran iitu merupakan bagian dari peran institusi publik dalam menjaga warisan budaya. “Pameran ini merupakan bagian dari tanggung jawab institusi publik dalam merawat memori kolektif bangsa melalui sastra,” ujarnya pada Jumat (25/4).

Mengangkat tema “Yang Terbit, Yang Tenggelam”, pameran ini mengajak publik melihat sejarah sastra tidak hanya dari karya yang bertahan, tetapi juga dari kemungkinan-kemungkinan yang tidak sempat muncul ke permukaan.

Tim kurator yang dipimpin Esha Tegar Putra menelaah sekitar 360 edisi Majalah Horison dari koleksi PDS H.B. Jassin. Dari proses tersebut dipilih sejumlah cerpen dan puisi yang merepresentasikan lanskap estetik Horison. Selain itu, lebih dari 30 ilustrasi dari periode 1966 hingga 1990 turut ditampilkan untuk memperlihatkan perkembangan visual dalam majalah tersebut.

Baca Juga: Sastra Indonesia Fiktif sebagai Representasi Sastra Indonesia Riil

Untuk memperkaya konteks, pameran ini juga menghadirkan arsip foto dari Dewan Kesenian Jakarta yang menunjukkan keterkaitan erat antara ekosistem kesenian di Taman Ismail Marzuki dengan para tokoh di balik Majalah Horison.

Berbeda dengan penyajian sejarah yang linear, pameran ini mengusung pendekatan kuratorial fragmentaris. Pengunjung diajak menelusuri potongan peristiwa, gagasan, serta dinamika redaksional yang membentuk Horison sejak pertama kali terbit pada 1966.

Pameran ini juga dibagi ke dalam sejumlah zona tematik, mulai dari linimasa perjalanan majalah hingga transformasinya ke medium digital, dokumentasi dewan redaksi lintas generasi, hingga eksplorasi visual melalui ilustrasi dan desain sampul.

Selain itu, pengunjung dapat menikmati arsip audio berupa rekaman pembacaan puisi oleh para penyair, sehingga menghadirkan pengalaman yang lebih imersif dan reflektif terhadap perjalanan sastra Indonesia.

Sastrawan Jamal D. Rahman dalam pidato kuncinya menyebut pameran ini sebagai ruang kejujuran sejarah. “Pameran ini tidak hanya merayakan keberhasilan, tetapi juga mengakui kegagalan dan ketidaksempurnaan dalam perjalanan sebuah majalah sastra,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa di balik setiap karya yang terbit, terdapat banyak naskah dan gagasan yang tidak sempat muncul ke publik. Pengakuan atas hal tersebut dinilai sebagai bagian dari integritas kebudayaan.

Baca Juga: Kemendikbudristek Tegaskan Sastra Bukan Hanya untuk Pelajaran Bahasa Indonesia

Melalui pameran ini, Perpustakaan Jakarta dan PDS H.B. Jassin berharap arsip tidak hanya menjadi objek pajangan, tetapi juga medium dialog antar generasi. Upaya ini diharapkan mampu mendorong publik untuk membaca ulang sejarah sastra Indonesia sekaligus menumbuhkan semangat berkarya di tengah perubahan zaman.

EDITOR: Ilham Safutra