JawaPos.com - Cahaya lampu atau penerangan kini tak hanya sekadar pelengkap ruangan. Tapi bisa menjadi ‘jiwa’ suatu ruang lewat permainan cahaya.
Dengan permainan lampu yang tepat, cahaya bukan hanya sekadar menerangi, tapi bisa membentuk kesan atau suasana yang ingin ditonjolkan. Dikatakan Lighting Designer Inka Dharmawan, pencahayaan masih sering diposisikan sebagai tahap akhir dalam proses desain.
Padahal, ketika diintegrasikan sejak awal, hasilnya adalah ruang yang lebih kohesif, berkarakter, dan menghadirkan pengalaman yang lebih kuat bagi penghuninya. Bahkan menghadirkan pengalaman yang lebih kuat bagi penghuninya.
Baca Juga: Chery Kenalkan Fitur VPD, Mampu Cari Parkir Sendiri tanpa Pengemudi
“Saat ini semakin banyak klien yang mulai menyadari pentingnya pendekatan ini dan secara aktif meminta integrasi pencahayaan yang lebih thoughtful. Saya melihat ini sebagai pergeseran yang sangat positif,” ujar Inka dalam diskusi bareng in-Lite Talks bertema Sintesa: Ruang, Seni, dan Cahya di ARCH:ID 2026 baru-baru ini.
Lalu, bagaimana menciptakan ruang dengan kesan yang kuat?
Dipaparkan Inka, konsep dan keyword awalnya itu suasana. Misalnya untuk restoran fine dining yang ingin menonjolkan kesan mewah atau dramatias biasanya kita fokus pada angle cahaya. Biasanya, dikasih spotlight-nya pada meja.
Sedangkan untuk rumah emang lebih tricky. Tapi biasanya, bisa dipertimbangkan terkait jarak lampu dengan dinding.
Permainan Cahaya Memainkan Panca Indra
Permainan cahaya salah satunya terlihat dalam ‘Paviliun Cahya’ di ARCH:ID 2026. Sesuai dengan tema Skema Sintesa: Integrasi Kolaboratif Arsitektur, Paviliun Cahya menjadi sebuah instalasi perjalanan cahya yang terinspirasi sintesa arsitektur Nusantara.
Commercial Director in-Lite LED Fransiska Darmawan menyampaikan bahwa instalasi ini terinspirasi dari pemikirian Raden Ajeng Kartini yang diwujudkan dari hasil sintesa in-Lite bersama para kolaborator yang mana seluruhnya adalah perempuan.
Diungkapkan Fransiska, Paviliun Cahya dirancang sebagai instalasi transisi cahaya yang mengeksplorasi bagaimana cahaya membentuk ruang melalui proses sintesa dengan elemen arsitektural lainnya. Dalam pendekatan ini, cahaya tidak hanya hadir sebagai elemen visual, tetapi juga sebagai medium yang menghubungkan ruang dengan persepsi manusia.
“Di sini, cahaya tidak hanya dimaknai sebagai hasil akhir, tetapi sebuah proses. Ia hadir secara bertahap, dari ketiadaan menuju kehadiran,” paparnya.
Inka Dharmawan yang juga Direktur Dharmawan Group menegaskan bahwa cahaya tidak lagi dapat dipandang sebagai elemen pelengkap. “Kita mau kasih lihat bukan cahaya aja, dengan general ligthing bisa mendetail dan menciptakan suasanya yag diinginkan,” ujarnya.
Lebih dari sekadar instalasi visual, pengunjung diajak mengalami cahaya melalui tiga tahap perjalanan. Mulai dari kegelapan total, temaram fajar, hingga ruang terang penuh. Setiap tahap dirancang untuk mengaktifkan indera yang berbeda dan membangun pemahaman bertahap tentang bagaimana cahaya membentuk pengalaman ruang.
Arsitek dan seniman Jessica Soekidi, sekaligus pendesain Paviliun Cahya in-Lite, menjelaskan, instalasi ini menggunakan pendekatan eklektik kontemporer untuk menghadirkan pengalaman imersif.
“Inspirasi utama Paviliun Cahya berakar dari sintesa arsitektur Nusantara, di mana leluhur kita telah memahami hubungan antara cahaya, ruang, dan alam,” terang Jessica.
Arsitektur Vernakular Indonesia, dari rumah panggung hingga candi, selalu memperhitungkan bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan ruang, sebuah kearifan lokal yang wajib dijaga seperti menjaga alam dan bumi.
“Kolaborasi dengan in-Lite juga menarik karena kami memiliki visi yang sama, bahwa pencahayaan berkualitas tidak seharusnya bersifat eksklusif, tetapi dapat diakses oleh semua kalangan,” sambungnya.