JawaPos.com - Data Program Lingkungan PBB (UNEP) memaparkan bahwa diperkirakan 40% dari konsumsi energi dan sekitar 30% emisi gas rumah kaca dihasilkan dari lingkungan binaan. Pembangunan perumahan merupakan salah satu contohnya.
Padahal, perumahan adalah tipologi arsitektur beragam yang konfigurasinya ditentukan tidak hanya oleh mereka yang merancangnya, tetapi juga oleh pemanfaatan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Rumah pada dasarnya adalah struktur yang dapat beradaptasi dan berkembang seiring dengan waktu dan penggunanya, serta mengalami perubahan terus-menerus yang diwujudkan dalam cara hidup.
Menyikapi itu, Komunitas SBCC (Sustainable Buildings, Cities & Communities) didukung oleh Asosiasi Rumah Modular Indonesia (ARMI) dan Kementerian PUPR, menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Mulia, Senayan, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Founder SBCC sekaligus Associate Prof. Prodi Arsitektur Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dr. Eng. Beta Paramita menerangkan, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah mitigasi yang realistik dan terstruktur. Tujuannya untuk mencegah dampak kerusakan lingkungan yang timbul akibat perkembangan lingkungan binaan di Indonesia.
“Menurut laporan Bank Dunia dampak Urban Heat Island, terutama bila dipertimbangkan bersamaan dengan perubahan iklim, merupakan ancaman serius dan semakin besar terhadap daya saing, kelayakan huni, dan inklusivitas kota-kota di Asia Timur," ungkap Dr. Eng. Beta dalam siaran tertulisnya.
"Yang mengkhawatirkan, kota-kota di Indonesia, Malaysia, dan Filipina terkena dampak UHI yang paling parah dengan rata-rata suhu permukaan tanah (Land Surfaces Temperature/LST) hingga 6,6 derajat Celcius lebih hangat dibandingkan daerah pedesaan di sekitarnya,” paparnya.
Ia menjelaskan, rumah yang dibangun saat ini tidak akan sama dengan rumah yang dibangun besok, sehingga perlu adanya pendekatan kritis dan mendalam terhadap perannya dalam lingkungan binaan.
“Dalam hal ini, rumah modular secara konsisten menampilkan dirinya sebagai strategi desain dinamis yang telah merevolusi perumahan konvesional, mengembangkan solusi serbaguna untuk ruang dan praktik konstruksi yang berkelanjutan," jelas Dr. Eng. Beta.
Oleh karena itu, lanjutnya, perumahan modular telah menjadi lahan subur untuk mengeksplorasi dan memperdalam cara menghuni ruang dan memenuhi kebutuhan manusia.
"Dari katalog rumah prefabrikasi pada abad ke-19 hingga booming perumahan pasca-Perang Dunia II, evolusinya mencerminkan proposal masa lalu dan eksplorasi konsep-konsep baru untuk masa depan yang tentunya lebih ramah lingkungan,” terangnya lagi.
Senada dengan Dr. Eng. Beta, Ketua Umum ARMI, Nicolas Kesuma menerangkan bahwa rumah modular adalah rumah dengan konstruksi bangunan khusus yang terbuat dari material rakitan pabrik.
Rumah modular dibangun dengan cara yang berbeda dari rumah biasa. Komponen seperti dinding, jendela dan pintu, dan atap sudah diproduksi terlebih dahulu, sehingga nantinya hanya tinggal dirakit (assembly) di lokasi konstruksi tanpa menyisakan limbah.
Jenis konstruksi ini katanya 50 persen lebih cepat dan membutuhkan bahan hingga 50 perseb lebih sedikit, sehingga menghasilkan efisiensi biaya 50 persen dibandingkan konstruksi konvensional atau tradisional.
“Teknologi baru telah memungkinkan bangunan atau rumah modular dibangun lebih besar, lebih tinggi, dan dalam banyak desain. Unit dapat dikirim ke seluruh negeri dan dirakit di lokasi dalam hitungan hari," jelas Nicolas.
Nicolas menambahkan, jika ditinjau dari kebutuhan pembangunan rumah di Indonesia yang terus meningkat, terutama yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, rumah modular berstruktur baja ringan (steel frame) adalah satu pilihan yang tepat.
Pasalnya, selain hemat energi pada operasional dan hemat biaya, rumah modular berstruktur baja ringan juga kuat, ringan, cepat dalam pembangunan, lebih sejuk, rendah jejak karbon dan ramah lingkungan.
Untuk itu, dengan adanya kegiatan FGD ini, Nicolas berharap dapat terbuka jalur komunikasi dan memperluas jaringan antar pemangku kepentingan dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, tenaga ahli dan pihak lain dalam menjajaki potensi kolaborasi dan kemitraan dalam lingkup SBCC.
Selain itu, adanya pertimbangan dalam penyusunan SNI bangunan rumah modular berbasis baja ringan yang ramah lingkungan, efisien energi dan biaya, kuat, ringan, cepat bangun dan sejuk.
Kementerian PUPR yang diwakili oleh Direktorat Jenderal Perumahan menerangkan tentang kebutuhan perumahan masyarakat, tanggapan cepat kepada pembangunan kembali paska bencana.
Selanjutnya, ketentuan penyusunan SNI bangunan gedung dan penyusunan prototype bangunan gedung hijau dan cerdas hingga standar perhitungan harga satuan tertinggi bangunan gedung negara. Tujuannya untuk mengetahui kelayakan rumah modular berbasis baja ringan.
“Diskusi teknis antar pemangku kepentingan kunci yang hadir luring dan daring terdiri dari akademisi, pengembang (developer), kontraktor, designer, industri baja ringan dan rumah modular, pemerintah terjadi secara kondusif dan membangun hingga tanpa terasa ada di penghujung acara," ungkap Nicolas.
"Kami berharap dapat memberikan masukan dan berkontribusi dalam penyusunan prototype rumah hijau dan cerdas," tutupnya.