JawaPos Radar

Sistem Rekrutmen Sopir TJ, Pengamat Minta Anies Belajar dari Korsel

14/10/2018, 07:00 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Sistem Rekrutmen Sopir TJ, Pengamat Minta Anies Belajar dari Korsel
Kecelalaan bus Transjakarta (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Banyaknya kecelakaan Transjakarta karena kelalaian sopir, Pengamat Transportasi Deddy Herlambang pun menyarankan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mencontoh negara lain.

Seperti misalnya negara gingseng Korea Selatan, Deddy melihat pola pikir dan sistem perekrutan sopir sangat baik di sana. Bahkan, sangat memperhatikan kesehatan dan waktu bekerja dari sopir.

"Rekrutmen super ini kalau dia disesuaikan seperti di Undang-Undang Ketenagakerjaan ya bisa jadi ada batas maksimal jam bekerja. Misalnya baru bisa istirahat setelah 7 jam bekerja," tutur Deddy saat dihubungi JawaPos.com, Sabtu (13/10).

Sistem Rekrutmen Sopir TJ, Pengamat Minta Anies Belajar dari Korsel
Ilustrasi kecelakaan Transjakarta (Kokoh Prabawa/ JawaPos.com)

Deddy mengungkapkan adanya kepedulian Pemerintah di Seoul atas kesehatan sopirnya, karena memang tanggung jawab sopir adalah mengantarkan penumpangnya ke tujuan dengan aman dan nyaman.

"Untuk menjembatani seperti itu harusnya ada semacam fingerprint yang bisa menentukan kadar kelelahan seseorang, atau dapat memperlihatkan pekerjaan si sopir sudah 8 jam itu bisa seperti di Seoul," jelasnya.

Menurutnya sistem di Seoul sangat baik, karena dapat menjadi acuan bagi Jakarta memperhatikan kesehatan sopirnya sebelum berkendara. Saking canggihnya, jika sudah melewati masa kerja alat tersebut akan berbunyi dan sopir harus digantikan dengan yang lain.

"Jadi di Seoul misalnya maksimal mereka kerja itu driver 6 jam, setelah kerja masuk pul jarinya telunjuk atau jempol ditekan. Kalau sudah 1 hari 6 jam bekerja otomatis bunyi alarmnya atau sensornya. Jadi nggak bisa lanjut lagi dalam hal itu tidak bisa ditipu," tambahnya.

Untuk diketahui, Sepanjang tahun 2018, ini moda transportasi bus Transjakarta mengalami 44 kali kejadian kecelakaan lalu lintas yang tersebar di 11 koridor rute perjalanan. Akibatnya, kerugian yang dialami PT Transjakarta ditaksir mencapai Rp 121 juta. Tak hanya itu, sebanyak 59 orang penumpang menjadi korban kecelakaan, 6 di antaranya meninggal dunia.

Data tersebut dirilis oleh Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Jumat (12/10). Kasubdit Penegakkan Hukum dan Pembinaan Ditlantas PMJ, AKBP Budianto menyebutkan selama 2018 dari Januari hingga awal Oktober ini, Bus Transjakarta mengalami kecelakaan sebanyak 44 kejadian yang tersebar di 11 rute perjalanan.

(rgm)

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up