JawaPos Radar

Mitigasi Sebuah Investasi

Oleh Amien Widodo*

13/10/2018, 13:00 WIB | Editor: Ilham Safutra
Mitigasi Sebuah Investasi
Puing-puing bangunan yang hancur akibat gempa di Sutleng. Ini kondisi di Sigi ketika belum bisa ditembus relawan untuk menyalurkan bantuan. (Issak Ramdhani/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pusat Studi Gempa Nasional Kementerian PUPR telah merilis Peta Sumber dan Bahaya Gempa di Indonesia 2017, tepatnya pada Oktober 2017. Dalam buku itu disebutkan, ada dua sumber gempa di Jawa Timur.

Pertama, tumbukan lempeng tektonik di selatan Jawa Timur. Kedua, sesar-sesar aktif di Jawa.

Mitigasi Sebuah Investasi
Ilustrasi: petugas ketika mengevakuasi korban gempa di Palu (Nurhadifa/Fajar/Jawa Pos Group)

Gempa akibat tumbukan lempeng dikenal dengan gempa megathrust dengan magnitudo maksimum M 8,7. Gempa tersebut berpotensi tsunami di pantai selatan Jawa Timur.

Sesar aktif yang melewati Jawa Timur juga lebih banyak. Antara lain, Banyuwangi, Probolinggo, Pasuruan, Surabaya, dan Waru sampai Caruban lewat Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, dan Nganjuk. Sesar aktif di daratan umumnya sangat merusak.

Walau kekuatan sumber gempanya kecil, tapi karena letaknya dekat, guncangannya akan berdampak besar. Sebaliknya, walaupun kekuatan sumber gempanya besar, tapi karena jaraknya jauh sekali, guncangan yang dirasakan kecil. Sebab, penjalaran gempa sewaktu menempuh jarak tersebut secara umum akan membuat (amplitudo) gelombang gempa semakin kecil. Gempa-gempa yang diakibatkan sesar aktif sudah terjadi di Jogja, Banjarnegara, Sumenep, Lombok, Palu, dan Selat Madura.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, korban meninggal akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah hingga Kamis pukul 13.00 Wita lebih dari 2.000 orang. Korban hilang sekitar 5.000 orang. Gempa itu sangat memengaruhi bangsa Indonesia setelah adanya likuefaksi yang menelan ribuan rumah dan penghuninya.

Terakhir, gempa Situbondo dengan M 6,0 telah merusak dan merobohkan ratusan rumah. Rumah yang terdampak berada di Sumenep, Probolinggo, Situbondo, dan Jember. BPBD Jatim mencatat ada 288 rumah warga yang rusak di empat kabupaten tersebut. Dari empat kabupaten itu, kerusakan rumah terbanyak terjadi di Sumenep dengan total 280 rumah.

Dari analisis terhadap berbagai kejadian gempa akibat sesar aktif tersebut bisa disimpulkan, korban, kerusakan, dan kerugian akibat gempa sangat besar. Ada pengalihan dana pembangunan yang cukup besar.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyatakan, potensi kerugian negara dari gempa bumi bisa mencapai USD 30 miliar per tahun atau Rp 405 triliun (kurs USD 1 = Rp 13.500) atau setara dengan 3 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Apalagi, bencana alam itu juga merusak infrastruktur. Gangguan alam tersebut bisa menghambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sri Mulyani meminta kepada setiap pemangku kepentingan agar setiap menyusun desain infrastruktur memasukkan mitigasi risiko untuk meminimalkan kerusakan akibat bencana alam. Secara nyata, biaya mitigasi lebih murah daripada rekonstruksi-rehabilitasi. Bila ditambah kerugian akibat bencana, mitigasi jauuuh lebih murah.

Berdasar data tersebut, gempa tidak membunuh. Tapi, bangunan robohlah yang bisa menewaskan orang. Bangunan roboh dipengaruhi setidaknya tiga hal. Yaitu, kualitas bangunan, jenis tanah di bawahnya, dan kapasitas penghuni. Belajar dari gempa akibat patahan aktif tersebut, Surabaya harus berbenah. Sebab, Surabaya dilewati dua sesar aktif yang membelah kota. Sesar itu bisa menimbulkan gempa darat dengan skala maksimum M 6,5.

Hasil penelitian tersebut jelas sangat mengejutkan banyak pihak. Baik masyarakat, pemerintah setempat, maupun kalangan perguruan tinggi. Sudah seharusnya Pemerintah Kota Surabaya segera melakukan kajian risiko sebagai dasar untuk mitigasi wilayah. Minimal dilakukan asesmen kualitas bangunan dan tanah.

Bila diketahui sifat fisik tanah jelek dan bangunan di atasnya jelek, bisa dikatakan kawasan risiko tinggi. Sebaliknya, kalau bangunan dan kualitas tanah baik, bisa disebut risiko rendah. Khusus di kawasan risiko tinggi, harus dilakukan berbagai upaya untuk mengurangi risiko. Misalnya, memperbaiki atau memperkuat bangunan dan tanah. 

*) Ketua Kelompok Kajian Bencana LPPM ITS

(*/c5/oni)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up