JawaPos Radar

Begini Jaminan Kesehatan Bagi TKI yang Mengadu Nasib di Johor

13/10/2018, 09:40 WIB | Editor: Dida Tenola
Begini Jaminan Kesehatan Bagi TKI yang Mengadu Nasib di Johor
Executive Director & Chief Executive Officer KPJ Johor Asmadi Mohd Bakri. (Bobi Bani/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mengadu nasib di Johor, Malaysia, cukup banyak. Kedekatan Johor dengan Indonesia, terutama Sumatera, jadi alasan para pahlawan devisa hijrah ke sana.

Selain hubungan di bidang ketenagakerjaan, Sumatera dan Johor memiliki hubungan lain yakni dalam hal kesehatan. Tidak sedikit masyarakat asal Sumatera yang memanfaatkan fasilitas kesehatan di Johor untuk berobat. Dari tahun ke tahun, WNI yang berobat ke Johor terus meningkat.

Tahun 2015, terdapat 46.234 orang yang berobat di Rumah Sakit KPJ Johor.  Dua tahun berselang jumlahnya meningkat menjadi 48.966 orang. Jumlah itu belum termasuk rumah sakit lain di Johor.

Terkait dengan penanganan kesehatan para TKI, Executive Director & Chief Executive Officer KPJ Johor Asmadi Mohd Bakri menjelaskan, tidak ada perlakuan khusus. Selama ada jaminan dan kesanggupan pasien, pelayanan tetap akan diberikan baik untuk para TKI maupun warga Malaysia sendiri.

Biasanya para TKI yang datang dengan jaminan dari majikan atau agen. "Kami terima TKI juga kalau itu ada agen atau dia punya bos yang jamin," jelas Asmadi ketika ditemui di KPJ Johor bel lama, Sabtu (13/10)

Asmadi melanjutkan, pelayanan akan sedikit berbeda jika berada rumah sakit milik pemerintah. Para TKI tidak akan memperoleh kemudahan seperti orang Malaysia pada umumya.

Meskipun demikian, Asmadi menjelaskan bahwa para TKI masih bisa mendapatkan pelayanan kesehatan maksimal (untuk kenis penyakit umum) di klinik wakaf. Johor merupakan salah satu daerah yang memiliki klinik wakaf yang cukup banyak.

Rumah Sakit KPJ Johor memiliki klinik wakaf yang dikenal dengan Klinik Rawat Amir. Masyarakat umum yang berobat di klinik wakaf ini hanya dikenakan biaya RM 5 dan mendapatkan fasilitas pengobatan sekaligus obat. "Siapa saja bisa, orang kaya juga ada. TKI juga bisa berobat di sini," lanjutnya.

Lebih jauh Asmadi menjelaskan, walaupun saat ini jumlah TKI di Johor terbilang dominan, pihaknya belum memiliki rencana menghadirkan kerja sama. Apa yang berlaku selama ini dinilai masih sesuai dan tidak menghalangi hak-hak TKI mendapatkan jaminan kesehatan.

 

(bbi/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up