JawaPos Radar

Cerita Mantan Ketua KPK Ruki Bantu Penyerahan Diri Eddy Sindoro

13/10/2018, 05:50 WIB | Editor: Estu Suryowati
Cerita Mantan Ketua KPK Ruki Bantu Penyerahan Diri Eddy Sindoro
Eddy Sindoro Hendak Ditahan Di Rutan KPK Pomdam Jaya Guntur, Jumat (12/10) malam. (Intan Piliang/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Taufiequrachman Ruki mengakui ikut berperan dalam penyerahan diri tersangka suap mantan petinggi Lippo Group, Eddy Sindoro. Dia mengakui alasan keterlibatan itu tak lain untuk membantu penegakan hukum yang ada di lembaga antirasuah.

"Orang tahu saya mantan Ketua KPK. Kemudian ada yang menghubungi saya. Saya nggak tahu (dia hubungi saya) karena percaya atau apa. Saya berbuat untuk kepentingan KPK, untuk kepentingan penegakan hukum. Tidak ada kepentingan untuk mendapatkan sesuatu," ujar Ruki di gedung Merah KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (12/10).

Lebih lanjut, Ruki juga mengaku tak tahu apakah ada ancaman yang diterima Eddy Sindoro. Bahkan, dia tak mengenal Eddy Sindoro sama sekali.

"Saya bukan mediasi, ya. Saya cuma diminta konsultasi oleh jaringan saya, 'Pak, kalau ada orang mau menyerahkan diri, bagaimana?'. Ya, serahkan diri saja, kok repot amat," tuturnya.

"Ternyata ada prosedur yang harus ditempuh, antara lain kalau menyerahkan diri langsung ke kedutaan besar, tanpa jelas komunikasi sebelumnya, pasti ribet. Saya coba komunikasikan hal itu dengan KPK dan dengan kedutaan besar di Singapura. Kebetulan ada atase polisinya. Saya hubungi, dan terjadi (penyerahan diri). Apakah terjadi ancaman dan segala macam (terhadap Eddy)? Saya nggak tahu," tambahnya.

Selain itu, Ruki juga menyebut tak mengetahui hubungan kasus ini dengan mantan Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi maupun pengacara Lucas. Hal tersebut, kata Ruki sebaiknya ditanyakan kepada KPK.

"Bagaimana hubungan kasus ESI dengan N (Nurhadi) dengan L (Lucas), saya juga nggak tahu. Cuma kok pas, orang yang menghubungi saya, pas juga KPK menetapkan itu pertama (Lucas) dicegah dulu kan, lalu ditetapkan jadi tersangka. Apa ada hubungannya? Saya nggak ngerti," pungkasnya.


Sekadar informasi, Eddy Sindoro ditetapkan sebagai tersangka pada 21 November 2016. ESI diduga telah memberi hadiah atau janji kepada pegawal negeri atau penyelenggara negara terkait dengan pengurusan perkara di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Atas perbuatannya, ESI disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a dan/atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau pasal 13 Undang-undang Tindak Pidana Korupsi Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana diubah Undang-undang Tindak Pidana Korupsi Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke -1 KUHP.

(ipp/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up