JawaPos Radar

Harga Premium Sempat Naik Karena Ponsel Rini Hilang Sinyal

12/10/2018, 15:05 WIB | Editor: Ilham Safutra
Harga Premium Sempat Naik Karena Ponsel Rini Hilang Sinyal
Ilustrasi: Premium yang sempat diumumkan naik oleh Ignatius Jonan dan akhirnya dibatalkan dipicu buruknya koordinasi pemerintah di setiap lini. (Miftahulhayat/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Maju mundur kenaikan harga premium jadi bukti amburadulnya koordinasi antarmenteri. Menteri BUMN Rini Soemarno yang membawahkan Pertamina mengakui adanya kesalahan dalam koordinasi dengan Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Menteri Keuangan Sri Mulyani mengenai keputusan menaikkan harga premium.

Kesalahan koordinasi terjadi karena Rini kehilangan sinyal telepon seluler (ponsel) saat mengunjungi korban gempa di Sigi, Sulteng. Dia mengaku kesulitan untuk menelepon Jonan sehingga tidak bisa menyampaikan pesan Presiden Joko Widodo agar harga premium tidak naik. "Jadi, memang belum bisa (berkoordinasi), memang Bapak Presiden minta saya kontak beliau (Jonan)," ujarnya kemarin (11/10).

Pembatalan tersebut juga disebabkan hasil kajian dari Menteri Sekretariat Negara Pratikno, yakni terdapat dampak negatif akibat kenaikan harga premium. Khususnya, dampak terhadap inflasi dan daya beli masyarakat kecil-menengah. "Kalau beliau (Presiden Joko Widodo) menginstruksikan untuk tidak naik," jelasnya.

Harga Premium Sempat Naik Karena Ponsel Rini Hilang Sinyal
Menteri BUMN Rini Soemarno (Bontang Post/Jawa Pos Group)

Meski demikian, dia menyinggung bahwa sebenarnya sudah ada koordinasi antara Jonan dan Sri Mulyani mengenai kenaikan harga premium. "Sudah ada pembicaraan, saya tidak ada waktu itu. Waktu itu saya ada di Sulteng. Jadi, saya tidak tahu apa pembicaraan dengan Pak Jonan dengan Ibu Menkeu," urainya.

Di sisi lain, Dirut Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengaku sudah tahu rencana kenaikan harga premium. Namun, lanjut dia, Pertamina butuh waktu untuk menyiapkan infrastruktur penerapan harga baru premium.

"Saya juga menginfokan waktu itu kami perlu menge-set up itu semua karena SPBU kita ada banyak juga. Namun, kami perlu waktu tidak bisa dimungkiri karena tidak mungkin langsung efektif dan bagaimana mekanismenya ketika terjadi antrean, semua harus ada penyelesainnya. Jadi, kami perlu waktu," tegasnya.

Menurut dia, penetapan harga BBM memang diputus berdasar hasil koordinasi dengan tiga menteri. "Pertamina sebagai korporasi juga melakukan survei untuk mengetahui kemampuan daya beli customer. Memang customer kita customer yang daya belinya terbatas, customer premium merupakan customer yang loyal terhadap Pertamina," imbuhnya.

Sementara itu, pasca batalnya kebijakan kenaikan BBM, nilai tukar rupiah dibuka melemah di level 15.223 per dolar AS pada perdagangan pasar spot kemarin (11/10) seperti dilansir dari data Bloomberg. Posisi rupiah itu melemah 23 poin atau 0,16 persen dari perdagangan hari sebelumnya yang berada di level 15.200.

Posisi mata uang garuda tersebut terus melemah menjelang siang, yakni berada di kisaran 15.276 per dolar AS. Rupiah pun ditutup di level 15.235 per dolar AS. Transaksi rupiah kemarin diperdagangkan dalam kisaran 15.223,8-15.267,5 per dolar AS.

Depresiasi rupiah yang makin dalam kemarin merupakan dampak dari batalnya pemberlakuan kebijakan kenaikan BBM.

Ketua Gaikindo Jongkie D. Sugiarto juga menjelaskan bahwa pemerintah pasti punya perhitungan yang tepat untuk tidak menaikkan harga BBM. "Kalau BBM naik pun kan kami memahami karena keadaan, perekonomian, dan segala macam, itu dari pemerintah kita pasti ada pertimbangan-pertimbangannya," ujar Jongkie.

Jika harga premium naik, menurut Jongkie, hal yang dikhawatirkan adalah kenaikan biaya operasional bagi pengusaha angkutan umum. Namun, pengguna kendaraan pribadi, menurut dia, tak akan banyak terpengaruh. 

(vir/ken/agf/c10/agm)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up