JawaPos Radar

Korem 083/Bdj Bantah Larang Seminar Sejarah di UM

12/10/2018, 12:55 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Seminar Sejarah
Laman website HISTORIA yang menuliskan aparat militer larang digelarnya seminar sejarah di UM. (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Aparat militer melarang seminar sejarah di Universitas Negeri Malang (UM) viral di media sosial. Namun hal itu dibantah Kapenrem 083/Bdj Mayor Inf Prasetya. Menurutnya, pembatalan tersebut murni dilakukan pihak panitia.

Sebelumnya, dunia maya sempat dihebohkan tulisan dari sebuah website bernama HISTORIA. Artikel tersebut berjudul 'Aparat Militer Larang Seminar Sejarah di Universitas Negeri Malang'. Di artikel dijelaskan, seminar yang semula digelar 24 Oktober harus dibatalkan setelah ada desakan dari aparat militer. Adapun artikel ditulis Randy Wirayudha dan diterbitkan pada 10 Oktober 2018.

Prasetya menegaskan, tulisan tersebut tidak benar. "Pembatalan kegiatan seminar nasional dengan tema Perubahan dan Kesinambungan Historis Dalam Perspektif Keilmuan dan Pembelajaran adalah murni dari pihak panitia," ujarnya, Jumat (12/10).

Ketua panitia acara telah menyampaikan permohonan maaf karena telah mencantumkan nama Korem 083/Bdj dan Kodim 0833/Kota Malang dalam surat pembatalan yang diterbitkan stafnya. "Hal itu disampaikan ketua panitia saat klarifikasi. Pembatalan ini murni dari pihak panitia," terang Prasetya.

Instansi militer juga tidak pernah menerima pemberitahuan secara resmi terkait rencana kegiatan seminar yang akan diselenggarakan pihak kampus. "Itu bukan ranah kami untuk melarang atau memberikan izin. Mengenai pemberitaan yang ditulis adalah tidak benar," tukasnya.

Menurut Prasetya, tulisan itu hanya berdasarkan surat pembatalan undangan kepada nara sumber yang dikeluarkan panitia pada 10 Oktober. "Sekali lagi ini bukan ranah kami untuk melarang. Karena kami tahu betul tentang UU Nomor 12 tahun 2012 pasal 8 ayat 3 tentang kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik dan otonomi keilmuan PT yang merupakan tanggung jawab Civitas Akademika," tandasnya.

Prasetya menyesalkan tulisan artikel yang dimuat di media online tentang pembatalan seminar. Sebab artikel mencatut nama institusi tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Namun pihaknya menganggap permasalahan tersebut telah selesai. "Masalah ini sudah diklarifikasi pihak panitia. Kami anggap permasalahan ini sudah selesai," tuturnya.

Sebagai informasi, seminar tersebut rencananya menghadirkan empat pembicara. Yakni, Asvi Warman Adam (sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI), Sri Margana (sejarawan Universitas Gajah Mada), Abdul Syukur (sejarawan Universitas Negeri Jakarta), dan Ari Sapto (sejarawan/Ketua Jurusan Sejarah UM).

(fis/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up