JawaPos Radar

Lahan Pertanian Makin Susut

Sandi Akan Dorong Pemanfaatan Teknologi Guna Pacu Produktivitas Petani

12/10/2018, 13:10 WIB | Editor: Mohamad Nur Asikin
Sandi Akan Dorong Pemanfaatan Teknologi Guna Pacu Produktivitas Petani
Ilustrasi petani tengah menggarap lahan persawahannya (Dok.JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Isu ketersediaan bahan pokok dengan harga terjangkau menjadi salah satu fokus Pasangan Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno. Calon Wakil Presiden nomor urut 2, Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan ada dua fokus utama yang akan diurus dalam masalah perekonomian negara.

Pertama, soal isu lapangan kerja. Kedua adalah mengenai ketersediaan bahan pokok dengan harga terjangkau.

Sandi tak menampik bila saat ini lahan pertanian terus menyusut dan berubah menjadi kawasan perkotaan. Bila dipercaya untuk menjadi orang nomor 2 pada 2019 nanti, dia menjanjikan akan memperkuat sumber-sumber produksi beras nasional dengan memanfaatkan teknologi.

Sandi Akan Dorong Pemanfaatan Teknologi Guna Pacu Produktivitas Petani
Calon Wakil Presiden Nomor 2, Sandiaga S Uno (DOK. ISSAK RAMADHAN/JAWAPOS.COM)

“Kita akan mengubah pola-pola, karena betul kita akan mengalami keniscayaan. Bahwa lahan pasti berkurang seiring dengan pembangunan perkotaan. Tapi yang belum dilakukan secara masif adalah penggunaan teknologi (di bidang pertanian),” kata Sandiaga Uno saat berkunjung ke Kantor Jawapos, Kamis (4/10) lalu.

Sandi menyebut teknologi diperlukan untuk menyuburkan lahan seiring dengan semakin turunnya produktivitas. Menurutnya, produktivitas lahan saat ini sudah turun jauh, bahkan hingga 5 ton per hektare. Sementara di negara lain produktivitas lahannya bisa mencapai 12 ton per hektare.

Selain itu, yang belum pernah fokus digarap hingga saat ini adalah industri pengolahan dari bahan pokok makanan. Kondisi ini seakan-akan sektor hulu dan industri pengolahan terputus.

“Kita akan gerakkan sektor hulunya untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan mendorong rantai distribusi yang lebih sederhana dan berkeadilan. Disini fungsinya dan peran teknologi lebih didorong,” ujarnya.

Mengenai isu turunnya produktifitas pertanian yang terjadi di Indonesia mungkin saja benar. Data yang JawaPos dapatkan dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) yang bersumber dari Bank Dunia 2017 bisa jadi rujukan. Meski Indonesia pernah dikenal sebagai negara agraris, namun saat ini hanya 31,5 persen atau 570.000 kilometer persegi saja yang digunakan untuk pertanian.

Sebagai perbandingan, negara lain seperti Thailand menggunakan 43,3 persen lahannya (221.000 km2), Australia 52,9 persen (4 juta km2) dan Tiongkok 54,8 persen (5 juta km2). Sementara itu rasio penduduk dibandingkan lahan di Indonesia adalah 1 orang : 0.22 hektar, Thailand 1:0.32 ha, Tiongkok 1:0,35 ha dan Australia 1:16.67 ha.

Head of Research Center for Indonesian Policy Studies Hizkia Respatiadi menyebut bukan hanya persentase tanah yang digunakan untuk pertanian yang lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga. Jumlah petani pun makin lama makin menyusut.

“Hal yang sama terjadi di sektor tenaga kerja bidang pertanian. Jumlahnya terus menurun karena mulai banyak yang beralih ke sektor jasa. Hingga saat ini 45 persen bekerja di jasa, sementara di pertanian hanya 33 persen,” ujar Hizkia, di sela kunjungannya ke kantor redaksi Jawa Pos, belum lama ini.

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up