JawaPos Radar

Meski Membaik, Ribuan Petani RI Masih Bergantung Pada Cuaca

12/10/2018, 12:20 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Meski Membaik, Ribuan Petani RI Masih Bergantung Pada Cuaca
ilustrasi pedagang beras (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pertanian menjadi sektor strategis yang memegang peranan penting dalam setiap sendi-sendi kehidupan manusia. Ketika kebutuhan akan sektor tersebut berkurang, potensi kegaduhan besar bisa saja terjadi. Bagaimana tidak, siapa yang tidak mengamuk ketika urusan perut saja sangat sulit?

Kondisi itu untungnya tidak terjadi di Indonesia untuk saat ini. Kalaupun terjadi, kegaduhan itu kerap dipolitisasi dengan alasan harga beras melonjak di pasaran.

Tapi, tidak adil rasanya jika hanya fokus pada kesejahteraan masyarakat saja. Bagaimana dengan para petaninya?

Meski Membaik, Ribuan Petani RI Masih Bergantung Pada Cuaca
infografis impor beras (Kokoh Praba/JawaPos.com)

Pengamat pertanian dari IPB Dwi Andreas Santosa mengungkapkan, kesejahteraan para petani tidak bisa disimpulkan dalam waktu singkat. Paling tidak, perlu dipertimbangkan sejak 17 tahun lalu melalui indikator Nilai Tukar Petani (NTP).

"NTP sepanjang 17 tahun terus menurun, dari 124 dari awal 2000-an jadi 100. Dalam arti, melihat hal itu berarti kesejahteraan petani tidak membaik tapi memburuk," ujarnya saat dihubungi JawaPos.com, beberapa waktu lalu.

Pernyataan Andreas berseberangan dengan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Mereka melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) per September 2018 mencapai 103,17 atau naik 0,59 persen dibandingkan periode sama bulan sebelumnya. Kenaikan NTP tak lepas dari indeks harga yang diterima petani naik sebesar 0,26 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani turun sebesar 0,33 persen.

Meski begitu, ia menyebut ada indikasi lainnya dari kesejahteraan petani. Pada 2013, sensus pertanian menunjukkan 5 juta rumah tangga petani harus keluar dari lahannya.

"Sebagian besar dilepaskan lahannya lalu mereka bekerja di sektor informal dan lain sebagainya. Beberapa laporan pasca 2013 banyak juga laporan petani yang melepas lahannya. Jadi kalau dari kondisi itu sama sekali tidak bisa dinyatakan membaik, justru memburuk," terangnya.

Dihubungi terpisah, Petani Penggarap Kertawinangun, Abu Tolib mengungkapkan, para petani tidak mengalami kesulitan sampai saat ini. Dari segi harga, pihaknya bisa menjual Gabah Kering Giling (GKG) mencapai Rp 550 ribu per kuintal.

"Kalau petani di sini kan kalau di Pantura musim rendeng hasilnya nggak maksimal. Karena curah hujan tinggi. Keuntungannya itu kalau musim kemarau. Hasilnya bagus," tuturnya.

Sementara itu, petani asal Tulungagung, Jawa Timur, Pur juga mengatakan hal senada. Dia mengakui sampai saat ini tidak berada pada posisi yang sulit. Ketika harga naik, tarif jual yang diterimanya juga ikut baik meski hanya sedikit.

"Ya nggak susah-susah banget. Biasanya saya jual GKG dari hasil panen di sawah per ton mencapai Rp 5,5-Rp 6 juta. Cuma, kalau lagi nggak bagus panennya ya rugi juga karena kan kita sawahnya sewa," tandasnya.

(ce1/hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up