JawaPos Radar

Koalisi Jokowi ke Sandi, Nasi Liwet Spesial Cuma Rp 22.000

12/10/2018, 09:03 WIB | Editor: Kuswandi
Pilpres 2019
Ilustrasi: Pilpres 2019 (Koko/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno sempat mengungkapkan harga makanan di Jakarta lebih mahal ketimbang di Singapura ataupun Thailand. Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding meng‎atakan, beberapa waktu lalu di berkunjung ke Semarang. Makanan di sana sangatlah murah. Padahal itu menu yang termasuk spesial atau istimewa.

"Ada nasi liwet harganya Rp 22 ribu. Itu pun nasi liwet yang sudah spesial, elite ke atas dan komplet," ujar Karding saat dikonfirmasi, Jumat (12/10).

Oleh sebab itu, menurut Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, pernyataan yang disampaikan oleh Sandiaga adalah mengada-ada. Bahkan tidak ada data-data yang valid.

"Jadi cara yang dipakai itu yang bententangan, datanya lemah dan cenderung hoaks saya kira," tegasnya.

Saat ini narasi yang dibangun oleh Prabowo ‎Subianto-Sandiaga Uno juga selalu bententangan dengan fakta-fakta yang ada. Sehingga dalam hal ini Koalisi Jokowi-Ma'ruf tidak terlalu risau.

"Memang selama ini isu yang dibangun selalu bertentangan dengan fakta yang ada," pungkasnya.

Sebelumnya, salah satu isu yang menarik dibahas dalam kampanye pilpres adalah soal ketahanan pangan dan harga bahan pokok makanan yang dapat diakses oleh masyarakat. Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahuddin Uno mengaku, pihaknya bakal fokus mengurus hal tersebut di samping isu lapangan kerja.

Dalam kunjungannya ke kantor Jawa Pos, Sandi mengatakan harga bahan makanan di Indonesia lebih mahal dengan negara Asia Tenggara lainnya. Hal ini karena panjangnya rantai distribusi yang menjadi kendala sejak lama.

“Bahan makanan di Indonesia lebih mahal dibandingkan di negara (ASEAN) lain. Sepiring makan siang di Jakarta lebih mahal dari sepiring makan siang dengan kualitas yang sama di Singapura, Thailand juga sama,” kata Sandi di kantor Jawa Pos beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, kata Sandi, mahalnya harga sepiring makan siang itu tak sebanding dengan pendapatan yang dihasilkan oleh petani. Pasalnya, petani yang juga merupakan konsumen beras mesti mengeluarkan biaya juga untuk membeli pupuk sehingga kalaupun penghasilannya naik namun tetap tergerus.

(ce1/gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up