JawaPos Radar

Catut Nama Jawa Pos dan Memeras, Kasat Reskrim: Silahkan Laporkan

12/10/2018, 05:30 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Kasus Pemerasan
Didik sendiri mengaku sudah melakukan aksi ini selama kurang lebih 2 tahun, sebelum akhirnya dia berhasil diamankan oleh Satreskrim Polres Batu, Rabu (10/10) lalu. (Fisca Tanjung/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kepolisian Polres Batu mengimbau agar masyarakat bisa kritis ketika menerima pesan singkat atau SMS bernada pemerasan yang dilakukan oleh oknum yang mengaku wartawan. Bahkan, jika perlu bisa melakukan konfirmasi pada organisasi wartawan. 

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Batu, AKP Anton Widodo memberikan tips bagi masyarakat agar terhindar dari modus pemerasan yang mengatasnamakan wartawan. "Bisa konfirmasi ke organisasi tentang kebenaran wartawan atau bukan. Misalnya PWI (persatuan wartawan Indonesia)," ujarnya, Kamis (11/10).

Sehingga, bisa diketahui apakah orang yang mengirimkan pesan singkat dengan mengatasnamakan profesi wartawan tersebut benar atau tidak. Hal itu menyusul adanya kasus penipuan dan pemerasan yang dilakukan oleh Didik Purwanto, 55, warga jalan Kelapa Gading, Kelurahan Rembang, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar ini. 

Kasus Pemerasan
PEMERASAN: Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Anton Widodo (baju putih) menunjukkan barang bukti kejahatan dan tersangka sewaktu rilis kasus di Mapolres Batu, Kamis (11/10). (Fisca Tanjung/JawaPos.com)

Didik mencatut nama Jawa Pos dan memeras sejumlah orang yang berada di lingkungan Pemkab maupun Pemkot. Setidaknya sudah ada 21 kantor pemerintahan yang mendapat pesan singkat bernada meminta bantuan tersebut. 

Sementara itu, Pemimpin Redaksi JawaPos.com, Dhimas Ginanjar menegaskan jika seluruh wartawan Jawa Pos, baik wartawan Jawa Pos koran maupun JawaPos.com (online) selalu dibekali tanda pengenal (ID Pers) dan terikat dengan kode etik jurnalistik. 

"Seluruh wartawan Jawa Pos dilarang keras untuk melakukan hal-hal seperti yang dilakukan oleh tersangka," kata dia. Jika ada hal serupa, lanjut dia, kepala dinas maupun siapapun diharap untuk tidak ragu melapor ke kantor maupun aparat kepolisian. 

"Meminta uang, bahkan sampai memeras jelas bukan sikap wartawan Jawa Pos," tegasnya.

(fis/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up