JawaPos Radar

Huntara Bagi Korban Bencana Sulteng Diperkirakan 5.000 Unit Lebih

11/10/2018, 20:00 WIB | Editor: Estu Suryowati
Huntara Bagi Korban Bencana Sulteng Diperkirakan 5.000 Unit Lebih
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut huntara yang akan dibangun jumlahnyba bisa mencapai 5.000 unit. (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)
Share this image

JawaPos.com - Pemerintah akan segera membangun hunian sementara (huntara) bagi masyarakat korban bencana gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter (SR) yang disertai tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng). Huntara dibangun sembari menunggu proses relokasi selesai, dan hunian tetap rampung dibangun.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebut huntara yang akan dibangun jumlahnyba bisa mencapai 5.000 unit. Pasalnya, hitungan tersebut baru fokus di tiga lokasi yang terdampak amblasan dan likuifaksi.

"5.000 itu hanya usulan yang disampaikan oleh Wali Kota palu. Diperlukan 5.000 unit baik untuk Balaroa, Petobo, maupun yang ada di kawasan pantai. Tapi ya kita tidak tahu itu semua cuma perkiraan," ujarnya dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Kamis (11/10).

Huntara dibangun bagi seluruh warga terdampak yang kini berada dalam tenda-tenda pengungsian dan menunggu masa rehabilitasi dan rekonstruksi. Jumlah hunian tetap dipastikan kurang dari huntara lantaran hanya diperuntukan bagi warga relokasi.

"Jumlah huntara belum pasti, sampai sekarang masih didata. Tapi huntara pasti lebih banyak. Sebab, huntara dibutuhkan untuk warga yang direlokasi, dan yang rumahnya rusak tapi tidak direlokasi," jelas dia.

Pembangunan huntara ditarget rampung dalam dua bulan. Pengerjaannya direncanakan dimulai pada awal November 2018 bertepatan dengan habisnya masa tanggap darurat. Diharapakan huntara tersebut bisa ditempati para korban dalam dua tahun ke depan, hingga hunian tetap selesai dibangun.

Model huntara akan ditentukan sesuai kesepakatan pemerintah daerah bersama masyarakat setempat, apakah berbentuk barak atau yang lainnya. Huntara bisa dibangun oleh pemerintah pusat dan daerah, organisasi masyarakat, NGO, hingga pelaku usaha dengan rata-rata seharga Rp 8-15 juta.

"Tentu rumah-rumah yang dibangun konstruksinya harus tahan gempa. Sambil menunggu proses pembangunan rumah tadi, kita tempatkan di hunian sementara. Satu rumah, satu KK. Ada juga yang satu rumah, dua KK, tergantung model-modelnya," tutur Sutopo.

Sebagai informasi, data BNPB menunjukkan angka pengungsi akibat bencana tersebut kini mencapai 87.725 orang. Sebanyak 67.310 unit rumah rusak, terdiri dari 65.733 unit di Kota Palu, 897 unit di Sigi, dan 680 unit di Donggala.

(yes/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up