JawaPos Radar

52,8 Ton Kayu Meranti Ilegal Disita Polisi, 19 Orang Jadi Tersangka

11/10/2018, 17:20 WIB | Editor: Dida Tenola
52,8 Ton Kayu Meranti Ilegal Disita Polisi, 19 Orang Jadi Tersangka
Para tersangka pembalakan liar 52,8 ton kayu meranti. (Virda Elisya/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Sebanyak 52,8 ton kayu Meranti ilegal disita Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau. Kayu-kayu itu merupakan hasil pembalakan liar di semenanjung Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau. Polisi telah menetapkan 19 orang sebagai tersangka pada kasus tersebut.

Dirreskrimsus Polda Riau Kombespol Gidion Arif Setyawan menjelaskan, 19 orang tersangka itu ditangkap berdasarkan 4 laporan polisi (LP). "Kami menyelidiki melalui jalur udara. Bersamaan dengan patroli yang digelar oleh satuan tugas pembakaran hutan dan lahan," jelas Gidion, Kamis (11/10).

Gidion menambahkan, seluruh kayu bernilai jual tinggi itu diamankan setelah diolah menjadi lempengan papan dan blok. Lokasi penemuannya berada di dalam kanal perusahaan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) PT SPA, Kabupaten Pelalawan. "Jadi kanal itu menjadi jalur utama para tersangka untuk mengangkut kayu dari dalam hutan,” tambahnya.

Meski ditemukan di dalam perusahaan, namun Gidion memastikan bahwa perusahaan tidak terlibat dalam pembalakan liar ini. Sebab, lokasi penebangan bukanlah di dalam areal lahan perusahaan. "Lokasi penebangan kayu tidak di lahan konsesi. Titik tebang di hutan desa Serapung, lalu dibawa keluar dari dalam hutan melewati kanal," ujar alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 1996 tersebut.

Terlebih lagi, pembalakan liar di wilayah tersebut mayoritas dilakukan oleh warga luar daerah. Itu terbukti dari diamankannya 19 tersangka yang sebagian besar merupakan warga Jawa dan Sumatera Barat. "Masyarakat Desa sebenarnya sangat menolak aktivitas itu. Tapi mereka tidak dapat berbuat banyak. Ini yang kita antisipasi terjadinya konflik," tutur mantan Wadirreskoba Polda Metro Jaya tersebut.

Diprekirakan, kawasan hutan itu telah dirambah selama tiga tahun terakhir. Perhitungan ini menurut keterangan dari saksi ahli kehutanan dan saksi ahli lainnya. Mereka menghitu berdasar jumlah luasan lahan yang telah dibabat."Bekas tebangan sangat rawan terjadinya pembakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebagian perambah telah mendirikan tenda untuk selanjutnya dialihfungsikan menjadi areal perkebunan," kata Gidion.

Atas perbuatannya para tersangka dijerat  Pasal 82 ayat 1 huruf b, dan atau 83 ayat 1 huruf B UU RI Tahun 2013 tentang Pencegahan Perusakan Hutan. Berkas para tersangka sudah P21 (lengkap). Sehingga mereka langsung dilimpahkan ke kejaksan. "Kasus ini terungkap Agustus lalu. Jadi kami sengaja rilis perkara ini setelah berkas dinyatakan lengkap oleh jaksa," tutup polisi dengan tiga melati di pundak itu.

(ica/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up