JawaPos Radar

Sepuluh Kecamatan Bandung Berpotensi Likuifaksi, Warga Perlu Waspada

11/10/2018, 14:36 WIB | Editor: Erna Martiyanti
Potensi likufaksi di 10 kecamatan di Bandung.
Ilustrasi: Potensi likufaksi di 10 kecamatan di Bandung. (Issak Ramadhani/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Bencana alam tengah melanda di beberapa wilayah Indonesia seperti di Lombok, Sulawesi Tengah, dan terbaru Jawa Timur. Hal ini harus menjadi atensi pemerintah dan masyarakat untuk siap dalam mengantisipasi bencana alam tersebut. Begitupun Kota Bandung, Jawa Barat, yang sedang ramai disebut sebagai kota yang berpotensi gempa.

Kepala Subbidang 1 PIPW pada Bappelitbang Kota Bandung Andry Heru Santoso menyebut, Bandung memiliki potensi fenomena likufaksi di beberapa kecamatan. Namun bukan untuk membuat gaduh atau khawatir, melainkan sebagai upaya untuk mengedukasi masyarakat Bandung.

Disebutkan ada sepuluh kecamatan di Kota Bandung yang berpotensi mengalamai likuifaksi atau pencairan tanah. Itu merupakan hasil dari sebuah riset dari ITB.

Potensi likufaksi di 10 kecamatan di Bandung.
Ilustrasi: Potensi likufaksi di 10 kecamatan di Bandung. (Issak Ramadhani/JawaPos.com)

Fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan. Yakni misalnya berdampak karena getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak. Sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau air berat.

"Sebagian besar di Bandung Selatan, juga sedikit di Timur. Yakni Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojongloa Kaler, Bojongloa Kidul, Astana Anyar, Regol, Lengkong, Bandung Kidul, Antapani, dan Kiara Condong," kata Andry di Taman Sejarah, Bandung, Kamis (11/10).

Namun menurutnya, penelitian tersebut perlu diperbaharui untuk bisa dipastikan kembali. Dalam hal ini, yang perlu lebih intensif dilakukan adalah upaya-upaya sosialisasi kepada masyarakat untuk mengedukasi tentang potensi bencana alam dan cara menyelamatkan diri.

Karena sebenarnya fenomena itu terjadi salah satunya karena perkembangan Kota Bandung yang cukup pesat dan pembangunan yang rata-rata vertikal (ke atas). Faktor lainnya yakni banyaknya kawasan padat penduduk.

Guna meminimalisasi hal buruk ketika terjadi gempa atau bencana alam, maka perlu dilakukan simulasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Pemerintah daerah dan gedung-gedung seperti mal, perkantoran, hotel, dan lainnya harus memiliki jalur evakuasi.

"Artinya jalur evakuasi atau ruang evakuasi itu mungkin perlu dan segera dilakukan upaya-upaya penyediaan. Apabila terjadi bencana itu bisa diminimalisasi," jelasnya.

Kemudian juga bisa lihat, sekarang itu potensi pengambilan air bawah tanah, khususnya di permukiman atau kawasan perumahan itu cukup tinggi. Hal ini terjadi karena memang PDAM tidak mampu lagi menyediakan sambungan air baru. Artinya alternatif yang paling murah hanya dari pengambilan air bawah tanah.

Sehingga, lanjutnya ini menyebabkan di kawasan tersebut air tanah semakin menipis. Sedangkan recharge atau pengisian ulang itu butuh waktu yang cukup lama.

"Ini sudah beberapa terjadi di kawasan-kawasan yang memang banyak terjadi di kawasan industri tekstil, garmen, kompleks (terjadi penurunan tanah). Juga karena fenomena kawasan perumahan baru semakin mempercepat terjadinya penurunan permukaan tanah, bahkan tadi, likufaksi," ujarnya.

Kepala Bidang Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah (PIPW) pada Bappelitbang Kota Bandung, Tammy Lasmini mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik. "Informasi ini bukan untuk panik, tapi kami melihat potensinya di situ, terjadinya belum tahu," ucap Tammy.

Maka Pemkot Bandung akan bersinergi dengan keamanan yakni Polri dan TNI. Karena dari Kepolisian dan TNI harus mengetahui serta ikut mengedukasi dan mengajak untuk bersama-sama menghadapi bencana alam.

"Maka secara teknis kita perkuat. Jangan panik tapi kita harus siap hadapi bencana itu," pungkasnya.

(ce1/ona/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up