JawaPos Radar

Pilpres 2019

Di Depan Jamaah LDII, Prabowo Bicara Kejamnya Pengkhianatan Kaum Elite

11/10/2018, 13:53 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Prabowo Subianto
Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto saat datang mengahdiri undangan Rakernas LDII di Pondok Gede, Jakarta. (igman/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto menilai, persoalan bangsa Indonesia yang belum bisa terselesaikan sejak merdeka adalah soal pengkhianatan kaum elite. Mantan Danjen Kopassus itu mengaku prihatin karena kesejahteraan rakyat sudah bukan tujuan utama lagi.

"Pengkhianatan ini dilakukan oleh elite bangsa kita sendiri. Elite kita sudah tidak berpikir kepentingan yang besar, tidak berpikir kepentingan rakyat, mereka hanya berpikir untuk kepentingan kelompok dan keluarganya," kata Prabowo dalam pidato sambutannya di Rakernas LDII, di Pondok Gede, Jakarta, Kamis (11/10).

Prabowo juga mengungkapkan, elite merupakan seluruh kalangan yang dinilai memenuhi ke dalam kategori unsur kepemimpinan di bangsa Indonesia. Namun, mereka kini membuat jurang dengar rakyat yang sejatinya pemilik negeri ini.

"Contoh nyata, Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alam, namun tak sepenuhnya hasil kekayaan dapat dirasakan oleh masyarakat," paparnya. 

"Ini sudah berjalan puluhan tahun sejak saya aktif di tentara. Saya melihat ini sebagai hal mengakibatkan paradoks," ucapnya. 

Prabowo memang telah membuat buku yang berjudul Paradoks Indonesia. Buku itu merupakan sejumlah tesisnya mengenai berbagai permasalahan ekonomi yang masih menjadi momok di Indonesia. 

"Saya minta data itu disanggah, kalau salah saya minta diralat karena kita manusia, kalau salah ya harus diperbaiki," tegasnya.

Salah satu tesis yang menurut Prabowo itu keliru adalah mengenai paham sistem perekonomian neoliberalisme. Dia bilang, sistem itu tak akan membawa pemerataan perekonomian bagi seluruh rakyat Indonesia. 

"Ternyata elite bangsa kita masih percaya (sistem ekonomi) neoliberal. Mereka yakin kekayaan (konglomerat) akan menetes ke (kelas) bawah, tapi ternyata yang kaya makin kaya, dan faktanya enggak netes-netes," jelasnya.

(ce1/aim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up