JawaPos Radar

3 Kondisi Terburuk Saat Milenial Konflik dengan Teman Sekantor

11/10/2018, 09:00 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
kaum milenial, pegawai milenials,
ilustrasi pegawai milenial bertengkar atau konflik di kantor sehingga mengganggu kinerja. (Boldsky)
Share this image

JawaPos.com - Di usia yang masih muda, milenial biasanya masih emosional dalam menyikapi masalah. Begitu pula saat berada di kantor. Jika terjadi konflik dengan sesama teman karena salah paham, mulanya mungkin hanya terjadi antara dua teman. Namun lama kelamaan, bisa merembet hingga terjadi konflik antar kelompok.

Dosen Hukum Bisnis Internasional Universitas Prasetia Mulya Tetty Lubis menyarankan perusahaan di tingkat atasan langsung agar peka dan membuka matanya saat terjadi suatu keadaan yang tak beres. Sebab jika konflik berkepanjangan, tentu akan tak baik bagi produktivitas perusahaan.

"Biasanya saat sudah ada gejala kondisi iklim tak enak di antara karyawan, atasan langung harus mengetahui gelagat sikap anak buahnya. Bisa dengan memanggil kedua pihak langsung, atau jika sudah sangat parah dengan melibatkan mediator hingga ke bagian personalia. Paling ujung adalah top management," jelas Tetty dalam Konferensi Pers Asian Mediation Association Conference 2018, Rabu (10/10).

Konferensi The Asian Mediation Association ke-5 akan dilaksanakan pada tanggal 24-25 Oktober 2018 di LeMeridien Jakarta. Kegiatan ini berusaha membantu perusahaan di lima kawasan Asia untuk lebih produktif dalam meminimalisir konflik di dalam perusahaan. Salah satunya konflik yang terjadi di kalangan milenial.

Tetty menilai konflik manajemen di kantor yang terjadi di kalangan milenial akan berdampak buruk jika didiamkan. Perusahaan harus melakujan intervensi dan mediasi jika sudah mengganggu kegiatan profesionalisme kinerja. Maka Tettu mengungkapkan tiga hal paling buruk yang bisa terjadi jika konflik teman sekantor didiamkan.

Mengundurkan Diri

Iklim tak nyaman bisa membuat salah satu pihak yang bertikai mengundurkan diri. Apalagi milenial paling mudah untuk mengajukan pengunduran diri. Mental dan ego dipertaruhkan untuk kuat bertahan.

"Paling buruk adalah salah satu mengundurkan diri. Patut diingat, perusahaan itu punya Code of Conduct. Harus dipatuhi oleh setiap karyawan. Justru perusahaan dengan karyawan lebih sedikit antara 100-200 orang akan lebih rentan konflik lho," ungkapnya.

Tak Mau Kerja Sama

Dampak lain adalah ketika atasan meminta sejumlah karyawan untuk membentuk tim kecil menangani suatu proyek, mereka yang berkonflik tentu sulit bekerja sama. Mereka bermalas-malasan atau meminta bos langsung untuk tidak satu tim dengan musuhnya.

"Jika bentrok dan wajib bekerja dalam tim di sebuah project dan ada pihak yang berselisih itu sudah masuk ke area mengurangi produktivitas perusahaan. Konflik manajemen terjadi," jelas Tetty.

Laporan Telat

Masalah dengan teman sekantor visa mempengaruhi produktivitas personal. Akibatnya semua tugas-tugas yang diberikan bos akan terlambat diselesaikan. Tentu lambat laun hal itu mengganggu profesionalisme.

"Laporan telat tentu membuat atasan kesal. Ternyata penyebabnya konflik dengan teman. Nah melihat tanda-tanda ini membuat perusahaan harus lebih sensitif dan peka," tegasnya.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up