JawaPos Radar

Ini Alasan Milenial Gampang Resign Saat Konflik di Kantor

11/10/2018, 07:24 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Ini Alasan Milenial Gampang Resign Saat Konflik di Kantor
Ilustrasi milenial mengundurkan diri dari perusahaan. (Shuttterstock/Rawstory)
Share this image

JawaPos.com - Terjun ke dunia kerja memang tak mudah khususnya bagi milenial. Mereka biasanya masih penuh gejolak emosi dan ego di tengah usianya yang masih transisi menuju dewasa. Sehingga ketika ada masalah sedikit saja di kantor dan terlibat konflik pertemanan, bisa mengganggu iklim kinerja dan prestasinya.

Sebagai contoh saat ini banyak milenial yang tak hanya terjun di dunia kerja sebagai pegawai, namun mereka menjadi bos muda atau CEO sebuah perusahaan startup. Tentu hal itu membutuhkan mental kepemimpinan yang kuat agar tidak mudah cengeng saat menghadapi masalah.

Maka ketika milenial menghadapi konflik dengan atasan atau teman sekantornya, mereka lebih memilih mengundurkan diri atau resign. Hal itu sebetulnya tak perlu terjadi, jika perusahaan bisa turun tangan dengan melibatkan mediator independen.

Ini Alasan Milenial Gampang Resign Saat Konflik di Kantor
Para mediator dalam konferensi pers menjelang The Asian Mediation Association ke-5 di Jakarta. (Rieska Virdhani/JawaPos.com)

"Perusahaan startup itu masih baru, manajemennya juga masih baru. Individunya pun masih baru bekerja, semuanya muda dan mereka fresh graduate. Apa-apa serba kekinian. Ketika konflik terjadi saling sikut, maka mental yang dituntut untuk kuat. Dengan egoisme yang tinggi membuat milenial gampang berhenti atau mengundurkan diri," kata Dosen Hukum Bisnis Internasional Universitas Prasetia Mulya Tetty Lubis, dalam Konferensi Pers Asian Mediation Association Conference 2018, Rabu (10/10).

Tetty menambahkan berbeda dengan perusahaan yang sudah kuat dan berdiri sejak lama biasanya memiliki pegawai yang sudah matang. Tidak memiliki rasa ego masing-masing seperti milenial.

"Berawal dari konflik dua orang antar teman, lalu baper, malah berkepanjangan dan mengganggu profesionalisme juga kinerja," tuturnya.

Mediator Milenial Wendy Lim menambahkan milenial di perusahaan startup harus mengutamakan dialog dalam menyelesaikan konflik. Sehingga perusahaan bisa terus melaju dengan iklim pegawai yang sehat.

"Mediator atau penengah jika ada masalah antara karyawan di perusahaan startup bisa menggunakan mediator milenial yang juga masih muda. Sehingga bisa mengerti permasalahan, dan mencari solusinya. Prinspinya adalah musyawarah dulu," ungkap Wendy.

Executive Director Pusat Mediasi Nasional Fahmi Shahab menjelaskan konflik teman sekantor atau di dalam kampus jangan sampai berkepanjangan. Sebab hal itu akan mengganggu ritme kerja atau perkuliahan. Maka dibutuhkan mediator yang juga milenial sebagai penengah jika terjadi konflik.

"Mediator angkatan muda akan bisa menengahi konflik yang terjadi dengan maksimal batasan umur 35 tahun. Jangan sampai masalah menjadi meledak. Konflik antara siswa atau karyawan bikin keadaan tak enak," tegas Fahmi.

Konferensi The Asian Mediation Association ke-5 akan dilaksanakan pada tanggal 24-25 Oktober 2018 di LeMeridien Jakarta. Kegiatan ini berusaha membantu perusahaan di lima kawasan Asia untuk lebih produktif dalam meminimalisir konflik di dalam perusahaan.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up