JawaPos Radar

Aksi Melawan Hoax Bermunculan di Jogja

10/10/2018, 22:46 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Aksi Anti Hoax
AKSI DAMAI: Aksi anti hoax di titik nol kilometer Kota Jogjakarta, Rabu (10/10). (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Aksi melawan hoax atau berita bohong bermunculan di Jogjakarta beberapa waktu belakangan ini. Pada Rabu (10/10) sore bertempat di titik nol kilometer Kota Jogjakarta, dilakukan aksi serupa oleh Relawan Joko Widodo-Ma’ruf Amin untuk Kemuliaan Indonesia (Rejomulia).

Ketua Rejo Mulia, K. H. Masrur Ahmad mengatakan, Rejomulia turut prihatin dengan massifnya fenomena ujaran kebencian (hate speech), kampanye negatif (black campaign) hingga mudahnya mengumbar berita bohong (hoax) baik di realitas sosial maupun sosial media.

Kadar kebencian, kebohongan, pemutar balikan fakta sudah sangat parah dan diartikulasikan secara permisif. Bahkan fenomena itu juga diproduksi oleh tokoh-tokoh politik yang sepertinya mempertontonkan daya nalar mereka.

"Hal itu jika tidak disadari dan direm oleh seluruh elemen masyarakat berpotensi membubrahkan NKRI," katanya, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (10/10).

Aksi spontanitas Flashmob Anti Hoax untuk Indonesia Damai Tanpa Tipu-Tipu ini, lanjutnya, merupakan bentuk Kampanye Damai dan upaya mengedukasi masyarakat.

Aksi ini berupa happening art dalam bentuk menari bersama secara kolosal menggunakan aneka topeng karakter lucu. Topeng lucu dipilih agar masyarakat terhibur dan senang dengan aksi damai ini tanpa meninggalkan nilai 
estetika.

"Kegiatan ini sekaligus untuk mengangkat potensi kerajinan seni topeng dari kertas bekas yang dibuat oleh para pengrajin kita," ucapnya. 

Aksi melawan hoax ini juga dilakukan pada Senin (8/10) lalu di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul. Digelar oleh Gerakan Rakyat Anti Hoax (GERAH) berupa aksi budaya dengan melarung tokoh wayang Sengkuni.

Lewat simbolisasi ritual budaya ini, berbagai rupa tokoh wayang Sengkuni dibuang ke laut dengan harapan agar watak pembohong atau penyebar berita bohong dan ujaran kebencian tidak ada lagi di nusantara.

Koordinator Gerakan Rakyat Anti Hoax, GERAH, Anter Asmorotejo mengatakan, aksi budaya bersama masyarakat Jogja dengan larung tokoh wayang Sengkuni sebagai simbol membuang sifat licik, jahat, angkara murka dan suka bohong. Makna larung tokoh tokoh wayang yang memiliki karakter buruk seperti Sengkuni, Dasamuka yang melambangkan keserakahan.

Kemudian, Dursasana  berwatak suka hantam kromo, Sarpokenoko dan Tjitraksi yang menyimbolkan sifat tidak baik dan pengecut. Dari dunia pewayangan ini masyarakat bisa mendapatkan tuntunan untuk menghindari hal hal yang tidak baik dan menyebarkan kebaikan.

Anter menyebutkan ada banyak wajah Sengkuni hadir dalam politik elit saat ini yang membuat dirasa perlu melakukan laku budaya. Agar wajah kebangsaan Indonesia lebih bermartabat.

"Kebohongan,  sifat angkara murka, karakter dan watak sengkuni itu tidak boleh hadir di Indonesia. Ke depan, ada tahun politik. Pemilu butuh suasana yang demokratis, ritual ini menghilangkan watak licik,  culas, mereka yang suka bohong, jahat tak boleh eksis di negeri ini," katanya.

(dho/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up