JawaPos Radar

Alami Patah Tulang Karena Terjepit Saat Gempa, Helda Jalani Operasi

10/10/2018, 17:35 WIB | Editor: Budi Warsito
Alami Patah Tulang Karena Terjepit Saat Gempa, Helda Jalani Operasi
Tim kesehatan melakukan tindakan medis bagi korban gempa Palu, di tenda rumah sakit lapangan. (Yonkes 2 Kostrad for JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Helda, 34, datang ke tenda rumah sakit lapangan Yonkes 2 dari Divisi 2 Kostrad, di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah. Dia ditandu oleh anggota dari Yonkes dan keluarga.

Selama sepuluh menit menempuh perjalanan dari pengungsian,  warga Jalan Kelor Lorong 3 ini akhirnya mendapatkan perawatan dari tim kesehatan. 

Helda merupakan warga Palu yang menderita fraktur atau patah tulang tertutup di paha. Ibu satu anak ini merupakan korban gempa yang mengguncang Palu, Jumat (28/9) lalu. Saat terjadi bencana, dia berlari menuju ke tempat yang lebih tinggi.

Tapi pada saat dia berlari, kaki kanannya masuk ke dalam tanah yang terbelah oleh gempa. Kondisi saat itu gelap. Akhirnya, dia terjatuh dengan posisi kaki masih terjepit di dalam tanah. Beruntung Helda dapat diselamatkan suaminya.

Setelah dilaksanakan pemeriksaan oleh dokter ortophedi, Kapten Ckm dr Joko Supriandono SpB disimpulkan bahwa pasien tersebut harus dioperasi bedah.

Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) dari Yonkes Divisi 2 Kostrad, Letnan Kolonel Ckm dr Djeffri Frederik Longdong SpAn MKes, memerintahkan dr Joko untuk segera melakukan operasi bedah. 

Longdong memimpin langsung operasi tersebut dengan ditemani Joko. Tim juga melibatkan Kapten Laut (Kes) Helmi Fahada Kesehatan TNI AL SpB, dr Edo SpB dan dr Andri Hamdani SpB dari rumah sakit dr Soetomo Surabaya. Serta dibantu oleh Asisten Operasi Serka Sumijo.

"Setelah kami periksa memang pasien membutuhkan operasi," kata Longdong, Rabu (10/10). 

Dia menjelaskan, proses operasi berlangsung selama 30 menit. General anastesi dilakukan terhadap Helda

Usai operasi, pasien keluar dari tenda operasi rumah sakit lapangan. Kemudian, ia dibawa ke tenda perawatan untuk dilakukan perawatan intensif lebih lanjut.

Operasi ini baru pertama kali dilakukan di rumah sakit lapangan. Biasanya, mereka hanya merujuk saja atau mengevakuasi korban gempa yang harus dirawat intensif, ke RS Wira Buana. 

"Fasilitas kami lengkap, karena memang rumah sakit lapangan," tegas dia.

(tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up