JawaPos Radar

Transit Riau, 6 Kg Sabu-sabu Asal Tiongkok Gagal Diedarkan di Surabaya

10/10/2018, 17:29 WIB | Editor: Dida Tenola
Transit Riau, 6 Kg Sabu-sabu Asal Tiongkok Gagal Diedarkan di Surabaya
Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan (dua dari kiri) menunjukkan barang bukti sabu-sabu asal Tiongkok yang gagal diedarkan di Surabaya. (Aryo Mahendro/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Satreskoba Polrestabes Surabaya menggagalkan pengiriman 6 kg sabu-sabu impor asal Tiongkok. Sorang kurir dan seorang pengedar berhasil diringkus polisi. Mereka adalah Amir Muklis, 41, warga Jalan Ahmad Yani, Sidoarjo; dan M. Mahin, 19, warga Jalan Hasanudin, Pasuruan. 

Terungkapnya jaringan narkoba itu berawal saat polisi menerima informasi adanya pengiriman sabu-sabu di Sidoarjo. Mereka langsung bertindak cepat. Kedua pelaku berhasil diringkus di depan sebuah ATM di Delta Sari, Sidoarjo.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Luki Hermawan mengatakan, begitu ditangkap, kurir dan pengedar itu langsung diinterogasi. Hasilnya, sabu-sabu seberat 55 gram yang akan diantar ke pemesan berhasil disita. "Sabu tersebut ternyata diimpor dari Tiongkok. Lalu dikirim ke Riau. Dari sana, lalu ke Jawa Timur melalui jalur darat," kata terang Luki di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (10/10).

Korps berseragam cokelat lantas melakukan pengembangan kasus. Mereka menggeledah rumah Amir. Hasilnya, 6 kg sabu-sabu ditemukan di dalam rumah itu. "Amir memberikan keterangannya saat interogasi awal. Dia mengaku menjadikan rumahnya sebagai tempat penyimpanan 11 paket sabu-sabu seberat 6 kg yang akan dikirim ke pemesan," tambah Luki.

Di tempat yang sama, Kapolrestabes Surabaya Kombespol Rudi Setiawan mengerangkan, Amir merupakan residivis narkoba. Dia pernah ditangkap tahun 2004 lalu. "Divonis 15 tahun. Sudah keluar tapi nggak kapok," terang Rudi. 

Amir adalah tipikal gembong narkoba yang menggunakan pola lawas. Dia memakai sistem berantai. Artinya, dia punya jaringan kurir yang berbeda-beda.

Kurir yang jadi anak buah Amir, bertugas mengirim serbuk haram itu ke Surabaya dan Bali. Setiap kurir mendapat upah Rp 10 juta. "Dia hubungi dulu kurir itu, disuruh ngambil. Setelah itu sabu-sabunya didistribusikan ke kurir lain. Terus seperti itu,” jelas alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 1993 tersebut.

 

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up