JawaPos Radar

Padatnya Permukiman Jadi Pemicu Tingginya Korban Jiwa di Palu

10/10/2018, 16:48 WIB | Editor: Ilham Safutra
Padatnya Permukiman Jadi Pemicu Tingginya Korban Jiwa di Palu
Anggota TNI dan Polri evakuasi korban jiwa akibat gempa di Palu. (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)
Share this image

JawaPos.com - BNPB bersama Tim SAR gabungan terus mendata jumlah korban jiwa akibat gempa Sulawesi Tengah (Sulteng). Sehari menjelang hari terakhir masa evakuasi, jumlah korban meninggal sudah mencapai 2.045 jiwa. Jumlah itu berdasar data BNPB per Rabu (10/10) pukul 14.00.

"Jumlah terbanyak masih terdapat di Palu. Sementara di Donggala 171 jiwa. Kemudian Sigi (222), 15 di Moutoung, dan 1 orang di Pasang Kayu," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Graha BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Rabu (10/10).

Tingginya jumlah korban jiwa di Palu karena di kota terdapat banyak permukiman. Tak ayal ketika ada gelombang tsunami warga tersapu. Setelah gelombang tsunami berakhir, korban tertimbun dan sulit dievakuasi.

Padatnya Permukiman Jadi Pemicu Tingginya Korban Jiwa di Palu
Likuifaksi salah satu fenomena alam yang muncul di saat gempa di Sulteng. (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)

"Kerusakan paling parah karena terjangan tsunami, bayangkan (tinggi tsunami) 11,3 meter. Kita lihat material lumpur yang ada di sepanjang pantai begitu banyak," kata dia.

Seluruh jenazah telah dimakamkan. Sebarannya di TPU Paboya dan TPU Pantoloan sebanyak 969 jenazah. Sisanya 1.076 jenazah dikebumikan di pemakaman keluarga.

Adapun untuk korban luka berat 2.549 orang dan 8.130 orang mengalami luka ringan dan menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara korban hilang yang terlaporkan (671).

Data pengungsi kini tercatat 82.775 orang dengan rincian 74.044 jiwa mengungsi di 112 titik di Palu dan Donggala, serta 8.731 jiwa di luar Sulawesi Tengah.

"Sebaran pengungsi paling banyak adalah di wilayah Kota Palu. Sebagian masyarakat telah kembali ke rumahnya, evakuasi keluar Kota Palu, ada yang ke Makassar, Balikpapan, Gorontalo, Manado, dan Jakarta,” kata dia.

Banyak rumah rusak, mencapai 67.310 unit. Begitu pula dengan fasilitas-fasilitas umum, yaitu fasilitas peribadatan 99 unit rusak, fasilitas kesehatan 20 unit rusak, dan kerusakan jalan 12 titik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Sosial (Kemensos) menyediakan 16 titik dapur umum.

(yes/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up