JawaPos Radar

BI dan The Fed New York Bahas Dampak Normalisasi Kebijakan Ekonomi

10/10/2018, 16:47 WIB | Editor: Mohamad Nur Asikin
BI dan The Fed New York Bahas Dampak Normalisasi Kebijakan Ekonomi
Gubernur BI Perry Warjiyo berjabat tangan dengan Presiden Fed New John Williams,York (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)
Share this image

JawaPos.com - Dinamika perekonomian global, khususnya normalisasi kebijakan ekonomi negara maju, turut membawa dampak pada negara berkembang, termasuk Indonesia. Koordinasi, komunikasi dan kerja sama dinilai bisa menjadi kunci untuk membuat respons kebijakan dari dinamika tersebut.

Presiden Fed New York, John Williams, mengatakan, saat ini ekonomi Amerika Serikat (AS) berada dalam keadaan yang sangat positif. Indikasinya, tingkat pengangguran dan inflasi yang rendah, prospek pertumbuhan yang baik dan diperkirakan masih akan berlanjut.

Dengan keadaan ekonomi yang baik tersebut, otoritas AS pun melakukan normalisasi kebijakan, dengan menaikkan suku bunga bank sentral dan normalisasi neraca (balance sheet).

"Meskipun demikian, disadari bahwa dengan saling terhubungnya ekonomi dunia, kebijakan AS dapat berpengaruh pada ekonomi global, dan pada gilirannya dapat kembali memengaruhi ekonomi AS," ujarnya di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10).

Willem menambahkan, dua hal penting yang ditekankan saat ini adalah normalisasi AS akan dilakukan secara bertahap, serta bahwa Negeri Paman Sam itu akan terus melakukan komunikasi transparan. Kedua hal ini diharapkan dapat mengurangi dampak global spillover.

Senada, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyebutkan mengenai bagaimana Indonesia menyikapi kebijakan bank sentral AS dan kondisi ekonomi global. Perry menyebut ekonomi Indonesia masih stabil dan berdaya tahan, antara lain tercermin dari pertumbuhan dan inflasi yang baik, serta stabilitas sistem keuangan yang terjaga.

"Namun dengan ekonomi domestik yang terjaga Indonesia tetap harus memperhatikan pengaruh ekonomi global," tuturnya.

Untuk itu, Perry mengungkapkan skenario kebijakan yang dilakukan pihaknya adalah memastikan daya saing pasar keuangan Indonesia agar tetap menarik, sehingga defisit transaksi berjalan tetap terjaga.

"BI juga selalu hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Pendalaman pasar keuangan juga terus dipercepat, agar pasar keuangan Indonesia semakin prospektif. Dalam usaha-usaha menjaga ekonomi Indonesia, BI tidak sendiri. Seluruh usaha tersebut dilakukan bekerja sama dengan instansi terkait, baik Pemerintah, OJK, maupun lembaga lainnya," tandasnya.

(hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up