JawaPos Radar

Banjir Kebohongan

Oleh Eka Kurniawan*

10/10/2018, 15:11 WIB | Editor: Ilham Safutra
Banjir Kebohongan
Ratna Sarumpaet merupakan bagian dari citra politik yang penuh kebohongan. (Miftahulhayat/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Ada sebuah dongeng tentang seorang anak yang di sore hari sering berteriak dari pinggiran desa meminta tolong, ''Serigala! Serigala!''

Tapi, setiap kali penduduk desa berhamburan untuk menyelamatkannya, diketahui bahwa teriakan itu bohong belaka. Hingga suatu hari, si anak sungguh-sungguh dihadang serigala dan dia berteriak meminta tolong. Kali ini nahas, tak lagi ada yang percaya kepadanya.

Dalam beberapa waktu terakhir, politik Indonesia penuh dengan seliweran kabar bohong. Beberapa barangkali hanya mengundang geleng kepala.

Banjir Kebohongan
Ilustrasi: DPR sebagai simbol politik banyak mendapat titipan harapan rakyat. Publik berharap mereka tidak berbohong dalam memperjuangan aspirasi yang diperjuangkan. (Hendra Eka/Jawa Pos)

Tapi, beberapa yang lain membuat masyarakat bereaksi dan para pelakunya diseret ke pengadilan.

Yang terakhir, dan saya yakin bukan puncaknya, adalah kasus yang menimpa Ratna Sarumpaet. Seniman teater itu diberitakan oleh kawan-kawan koalisi politiknya mengalami penganiayaan oleh orang tak dikenal di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Belakangan, masyarakat (dan polisi) menemukan, wajah Ratna yang bengkak ternyata merupakan efek operasi plastik.

Banyak yang percaya pelaku-pelaku kebohongan itu pada akhirnya akan bernasib seperti si anak dan teriakannya. Mereka akan dimakan serigala kebohongannya sendiri.

Contoh kasus Ratna. Tak berapa lama setelah kebohongannya terbongkar, dia ditangkap di bandara sebelum terbang ke Cile. Bahkan, meskipun dia mengaku hendak menghadiri Konferensi Internasional Dramawati Ke-11, orang telanjur tak percaya. Banyak orang yang menudingnya hendak kabur dari masalah hukum.

Benarkah hal ini selesai hanya dengan membongkar kebohongan dan pelakunya kehilangan kepercayaan? Saya tak yakin. Pokok utamanya bukan soal kebohongan yang terkuak atau pelakunya ditangkap dan tak lagi dipercaya.

Pokok soalnya, kebohongan-kebohongan itu seperti nyaris tanpa akhir. Bermunculan setiap waktu, diteriakkan bahkan oleh orang yang berbeda-beda.

Jelas, ini bukan masalah kebohongan yang bisa dihadapi dengan pesan moral semacam, "Jika kau berbohong, hidungmu akan terus memanjang". Bahwa tak ada asap tanpa api. Untuk menjelaskan kebohongan yang ditutupi pasti akan terkuak.

Bukan. Ini bukan saatnya kita ceramah masalah itu.

Masih ingat kartun Donald Trump dengan hidung menyerupai Pinocchio pada masa kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat? Pesan moral jadi tak lagi penting.

Kenyataannya, Trump bahkan terpilih sebagai presiden Amerika Serikat meskipun banyak yang membuktikan kebohongan-kebohongannya. Di sini pun saya yakin, kebohongan tak akan berakhir hanya karena Ratna Sarumpaet ditangkap polisi dan bahkan dibuang kawan-kawannya sendiri.

Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan jika kebohongan semacam itu datang ganti-berganti? Dari waktu ke waktu?

Kita kembali ke kisah si anak yang diterkam serigala karena kebohongannya. Bayangkan, pada saat yang sama, seorang nenek berteriak-teriak karena cucunya tenggelam di sungai.

Belum usai mereka memeriksa kebenarannya, seorang petani berteriak ada gerombolan begal mencuri sapi ternaknya. Seorang istri menangis karena anak di kandungannya hilang dicuri. Seseorang membawa kabar karena gunung di daerah mereka akan meletus. Penduduk lain minta tolong karena ada perampok di rumahnya.

Setelah peristiwa dengan si anak dan kebohongan serigalanya, tentu penduduk menyangsikan semua kabar tersebut. Dan berharap bisa memeriksa kebenarannya satu per satu.

Tapi, yang mana? Dan jika mereka bisa berhasil membongkar kebohongan yang satu, apakah mereka akan bergerak ke kebohongan yang lain? Jika mereka kemudian menemukan sebagian besar adalah kebohongan, bagaimana dengan berita yang benar?

Simulasi semacam itu kini benar-benar terjadi pada era digital dengan penetrasi media sosial yang luar biasa di masyarakat. Sebelumnya, dunia digital ditandai dengan keadaan ketika informasi disajikan melimpah kepada kita.

Mari kita tengok berbagai informasi yang berseliweran di waktu yang kurang lebih sama di seputar kasus Ratna Sarumpaet. Sandiaga Uno menyatakan, makan nasi dan ayam di Singapura lebih murah daripada di Jakarta.

Apakah itu benar atau salah? Anda akan menemukan banyak orang sibuk untuk membantah maupun mendukung pernyataan tersebut.

Lantas, bagaimana dengan pernyataan Ma'ruf Amin yang bilang mobil Esemka akan meluncur bulan Oktober? Benar atau salah? Bergantung pihak mana, orang akan membela atau membantahnya juga.

Kita bisa menemukan informasi sejenis, juga pada hari-hari mendatang. Polanya sama: sebagian besar ada hubungannya dengan politik.

Apa yang bisa kita pelajari dari semua keributan ini? Bagi saya jelas, para elite politik dari berbagai kubu tengah menyeret kita dalam banjir semacam ini. Teriakan-teriakan minta tolong dan cari perhatian yang tak jelas. Kita dibuat bingung, ragu, saling curiga, dan dalam keadaan seperti itu, mereka berharap kita bisa dikendalikan.

Tujuannya hanya satu tentu: ambisi kekuasaan mereka belaka, bahkan meskipun taruhannya melihat kita tenggelam satu per satu. Tenggelam dalam pertikaian tanpa akhir, tenggelam dalam keributan yang tidak produktif.

Banjir jelas sulit dihadang. Tapi, kita bisa menyelamatkan diri dengan menolak tenggelam bersama mereka. Menolak terseret arus. Terutama jika tak mampu membuat mereka berhenti menciptakan banjir kebohongan. 

*) Novelis, Salah Satu Global Thinkers of 2015 Pilihan Jurnal Foreign Policy

(*)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up