JawaPos Radar

Kisah Inspiratif Pengusaha Laundry

Berawal dari Rumah di Jalan Buntu, Denny Mulai Bangun Kerajaan Bisnis

10/10/2018, 13:53 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Pengusaha Laundry
BERBAGI IILMU: Denny sewaktu sharing ilmu dengan sejumlah pengusaha laundry di Kota Solo, baru-baru ini. (Sari Hardiyanto/JawaPos.com)
Share this image

Selama ini bisnis laundry kerap dipandang sebelah mata. Selain dianggap kelas rendahan, banyak yang memandang kurang menguntungkan dari aspek bisnis. Padahal tidak demikian. Denny Indrawan Hartono telah membuktikannya.

Sari Hardiyanto, Solo

JawaPos.com - Dari sebuah rumah di jalan buntu, Denny mulai membangun kerajaan bisnis laundry-nya. Tempatnya tidaklah terlalu besar, dengan ukuran 3x4 meter. Namun siapa yang menyangka, kini bisnis yang berkaitan dengan urusan cuci-mencuci milik pria kelahiran 27 agustus 1981 tersebut semakin berkembang dan menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Hanya dalam waktu relatif singkat belum ada 2 tahun, kini outlet pria yang tinggal di Kelapa Gading Jakarta Utara tersebut telah berkembang pesat hingga 10 lokasi dengan 36 karyawan.

Uniknya, pengembangan bisnisnya tersebut dilakukan tanpa modal. Untuk melebarkan bisnis laundry-nya, Denny menggunakan konsep sharing modal dan sistem bagi hasil. Lebih mudahnya, pria yang pernah mengambil jurusan Akutansi tersebut memakai prinsip franchise.

"Awalnya kita hanya terima barang. Sekarang kita pakai sistem bagi hasil. Jadi siapa lagi yang mau menanamkan uangnya ke kita," ujarnya kepada JawaPos.com dalam sebuah kesempatan di Solo, baru-baru ini.

Seperti halnya pengusaha-pengusaha lainnya, meski kini omzetnya sudah menembus angka puluhan juta rupiah dalam sebulan, Denny sempat merasakan suka duka dalam menjalankan usahanya tersebut. Mulai dari penolakan istri dan mertua, sewaktu awal mula berniat membuka usaha laundry hingga kehilangan barang konsumen.

Bahkan di awal mula berniat membuka usaha laundry, Denny sempat dimarahi oleh mertuanya, lantaran tidak menerima jika anaknya harus bergelut dengan urusan cuci-mencuci. Akhirnya, pria yang pernah menjadi Sales Manager springbed di Jakarta tersebut mengurungkan niat untuk membuka laundry.

"Dulu istri saya sempat menolak, karena tidak mau misalkan nanti harus pegang celana dalam orang. Tetapi berjalannya waktu, ternyata hasilnya lumayan," bebernya.

Dan untuk mempromosikan bisnis laundry-nya, Denny memaksimalkan media sosial. Bahkan ia mempunyai kelas khusus terkait dengan laundry di channel youtube. "Jadi ceritanya saya ini youtuber. Jadi saya manfaatkan betul medsos untuk jualan," paparnya.

Kendati persaingan laundry semakin ketat, hal tersebut tidak menjadi soal. Bahkan, ia menargetkan mampu membuka satu cabang setiap bulannya. Prinsipnya sama yakni dengan sistem bagi hasil. Dan untuk mendukung bisnisnya, Denny pun mempunyai standarisasi untuk usahanya tersebut. Dari ukuran tempat, hingga plastik yang dipergunakan.

Bahkan, ia pun sudah mematenkan nama laundry-nya agar tidak terjadi persoalan di kemudian hari. "Dulu istri saya nyebutnya ini bisnis pembantu. Sekarang istri saya yang produksi, saya di bagian marketingnya," imbuh Denny.

Lebih lanjut, Denny mengatakan prospek bisnis laundry sangatlah menjanjikan. Asalkan dikelola dengan serius dan disiplin. "Saya awalnya kenal bisnis laundry ini dari teman. Penasaran, ikut-ikut seminar dan sekarang menjadi pekerjaan," pungkasnya.

(sar/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up