JawaPos Radar

103 Kepala Keluarga di Pekanbaru Mengungsi karena Banjir

10/10/2018, 13:49 WIB | Editor: Dida Tenola
103 Kepala Keluarga di Pekanbaru Mengungsi karena Banjir
Seorang bocah di Perumahan Indra Palas, Pekanbaru tampak membersihkan sisa-sisa air yang menggenangi rumahnya. (Virda Elisya/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Sebanyak 103 Kepala Keluarga (KK) di Perumahan Indra Palas, Pekanbaru, Riau, menjadi korban banjir. Wilayah itu adalah yang terparah sejak hujan mengguyur Pekanbaru, Selasa petang (9/10).

Ketua RW 08 Kelurahan Rumbai Bukit Jafri menyebutkan, korban banjir sebenarnya ada sekitar 128 KK. Namun yang paling parah ada 103 KK. Sisanya tidak terlalu parah.

Jafri memaparkan, 25 KK tidak terlalu terdampak banjir karena rumahnya cuma tergenang.  ”Kalau yang parah itu tinggi airnya sampai 120 meter. 103 KK sampai mengungsi ke musala terdekat dan tenda BPBD,” paparnya, Rabu siang (10/10).

103 Kepala Keluarga di Pekanbaru Mengungsi karena Banjir
Seorang ibu menjemur buku-buku sekolah milik anaknya yang basah karena terendam banjir (Virda Elisya/ JawaPos.com)

Menurut Jafri, banjir kali ini lebih besar daripada sebelumnya. Dia mengatakan bahwa siklus banjir datang lima tahun sekali. Lokasi paling parah berada di Jalan Sri Indra II.

Sementara itu, salah seorang korban bernama Sihombing, 46, menyebut banjir mulai melanda Selasa malam, sekitar pukul 20.30 WIB. Saat itu, air cepat meluap. Banyak warga yang tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga. "Mulainya jam segitu. Tapi menyeluruh sekitar pukul 10 malam. Banjirnya tiba-tiba aja datang makanya gak ada yang sempat diselamatkan," cerita Sihombing.

Banjir ini sudah dirasakannya sejak 10 tahun terakhir. Namun yang paling parah adalah tahun ini. Ia beserta keluarganya pada malam itu terpaksa menumpang tidur di rumah temannya yang tidak terkena banjir. "Ngungsi semalam. Orang-orang disini juga pada ngungsi semua," sebutnya.

Menurut Sihombing, musibah banjir selalu terjadi setelah dibangunnya perumahan. Terlebih lagi akibat perumahan itu dibangun, anak sungai Siak yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya menjadi dangkal.

"Semenjak ada perumahan memang banjir terus. Sudah 10 tahun. Cuma pemerintah nggak tahu atau memang nggak dipikirkan. Kalau menyampaikan dan meninjau langsung sudah dilakukan. Kapasitas sungai kecil," keluh Sihombing.

Ia pun berharap agar pemerintah dapat segera mengambil langkah konkrit untuk penanganan masalah banjir yang menahun ini. "Kami berharap agar sungai dibesarkan," harapnya.

(ica/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up