JawaPos Radar

Miftahul Jannah Didiskualifikasi, DPR: Masyarakat Sakit Hati

10/10/2018, 11:33 WIB | Editor: Imam Solehudin
Miftahul Jannah
Atlet Judo Indonesia, Miftahul Jannah bersama Menpora. DPR mengecam keras aksi pendiskualifikasian terhadap Miftahul Jannah. (Dok.JawaPos)
Share this image

JawaPos.com - Wakil Ketua Komisi X DPR, Abdul Fikri Faqih mengecam diskualifikasi atlet putri Indonesia, Miftahul Jannah. Miftahul tak boleh bertanding dalam Asian Para Games karena mengenakan hijab.

"Prinsipnya, tidak boleh ada pelarangan atas hak menjalankan kepercayaan seseorang, apalagi di ranah olahraga yang menjunjung tinggi nilai humanisme universal," ujar Fikri dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Rabu (10/10).

Fikri mengatakan, hal tersebut sepenuhnya juga karena kesalahan panitia. Dalam hal ini National Paralympic Comittee, maupun cabang olahraga yang menaungi para atlet judo.

“Bagaimana bisa regulasi tidak didalami lebih dahulu, sampai Miftahul harus turun ke lapangan dan akhirnya didiskualifikasi juri?” katanya.

Ia menuturkan, mestinya sejak technical meeting pre match semua sudah clear. Sehingga tidak sampai ke tengah pertandingan.

Fikri juga mempertanyakan, kenapa pihak terkait sampai lalai terkait regulasi yang berlaku dalam cabang Judo tersebut. "Ini menunjukkan panitia dan cabor tidak siap menerjunkan para atlet bertanding,” ungkapnya.

Fikri mengakui, regulasi dalam pertandingan internasional judo berdasarkan ketentuan IJF (International Judo Federation) belum membolehkan atlet menggunakan tutup kepala apapun, termasuk jilbab dalam kejuaraan.

“Mestinya bisa negosiasi sebelumnya, kalaupun permintaan gagal dipenuhi, tidak sampai merugikan kontingen Indonesia seperti ini,” sesal Fikri.

Lebih jauh, kejadian ini akan membuat interpretasi negatif di kalangan publik Indonesia yang mayoritas muslim. Karena masyarakat muslim akan bereaksi lantaran melihat simbol Islam seperti jilbab dilarang dalam event yang ditonton jutaan orang.

"Kemudian bisa timbul prasangka lain, karena sebelumnya di event yang lebih besar seperti Asian Games yang baru saja usai, banyak atlet putri yang berhijab, ikut bertanding, dan jilbab terbukti tidak menghalangi atlet untuk berprestasi, bahkan meraih emas, lantas kenapa masih ada pelarangan semacam ini?. Masyarakat sakit hati," tanyanya.

Sepanjang Asian Games 2018, bertebaran atlet-atlet putri bangsa peraih medali yang juga hijab. Di cabang panjat tebing ada Aries Susanti Rahayu (emas) dan Puji Lestari (perak). Di cabang pencaksilat ada Puspa Arum Sari (emas) dan Sarah Tria Monita (emas), Nandita Ayu dan Tri Retno atlet bola voli putri, Diananda Choirunnisa (panahan), hingga peraih emas pertama untuk Indonesia dari cabang Taekwondo, Defia Rosmaniar.

Karenanya, Fikri mendukung penuh langkah yang dipilih atlet tunanetra asal Aceh tersebut. Miftahul Jannah lebih memilih untuk tidak melepas hijabnya, kendati harus didiskualifikasi dari pertandingan.

Fikri juga meminta pemerintah tetap memberi penghargaan bagi Miftah. “Pemerintah harusnya memberi penghargaan untuk Miftah atas usaha dan kerja kerasnya sebagai atlet, namun tetap teguh menjaga keyakinannya sebagai muslimah," pungkasnya.

(gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up