JawaPos Radar

Perdana Melantai Di Bursa, Saham Resto The Ducking Melesat 49,5 Persen

10/10/2018, 10:22 WIB | Editor: Mohamad Nur Asikin
Perdana Melantai Di Bursa, Saham Resto The Ducking Melesat 49,5 Persen
Ilustrasi Gedung Bursa Efek Indonesia (DOK. ISSAK RAMADHAN/JAWAPOS.COM)
Share this image

JawaPos.com - Perusahaan restoran bebek The Duck King, PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK), resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui pencatatan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) menjadi emiten ke 43 tahun ini. Total perusahaan yang tercatat di BEI menjadi 606 saat ini.

Perusahaan menawarkan sebesar 513.330.000 lembar saham dengan harga Rp 505 per saham melalui mekanisme Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO). Nilai tersebut, setara dengan 40 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah IPO.

Dalam debut perdananya, Saham DUCK langsung melesat naik 49,5 persen menjadi Rp 755 per lembar saham dari harga penawaran atau naik 250 poin dari harga penawaran perdana. Berdasarkan aturan perdagangan, saham tersebut mengalami autorejection.

Dalam aksi korporasi ini, Perseroan menunjuk
PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia, PT Danareksa Sekuritas dan
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Direktur Jaya Bersama Indo Dewi Tio menyampaikan, pihaknya mengadakan program Employee Stock Allocartion (ESA) dengan mengalokasikan 0,006 persen dari jumlah penerbitan saham yang ditawarkan atau sebanyak 30.000 saham.

Selain itu, Perseroan juga menerbitkan opsi saham untuk program Management and Employee Stock Ownership Program (MESOP) sebanyak-banyaknya 10 persen dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO atau sebanyak-banyaknya 128.333.000 lembar saham.

“Sesuai dengan Prospektus, Perseroan akan mengalokasikan sebesar 80 persen dana hasil IPO untuk ekspansi bisnis, membuka gerai baru dan merenovasi gerai yang ada. Sedangkan sisanya sebesar 20 persen untuk modal kerja,” ujarnya di gedung BEI Jakarta, Rabu (10/10).

Adapun gerai baru akan dibuka pada sejumlah kota besar di Indonesia antara lain di Jawa, Bali, Sulawesi dan Kalimantan. Selain itu, Perseroan juga akan berekspansi ke luar negeri dengan menyasar pasar di Vietnam, Kamboja, dan Myanmar.

Perusahaan memiliki tiga merek utama, yaitu The Duck King, Fook Yew, dan Panda Bowl, serta tujuh sub-merek dari The Duck King untuk menangkap permintaan di segmen konsumen kelas menengah yang sedang tumbuh di Indonesia.

Sebagai informasi, Pada tahun 2017, Perseroan berhasil membukukan kenaikan pendapatan sebesar 23,4 persen dari Rp 436 miliar pada tahun 2016 menjadi sebesar Rp 538 miliar pada tahun 2017. Adapun EBITDA naik 118,2 persen dari Rp 62 miliar pada tahun 2016 menjadi Rp 134 miliar pada tahun 2017. Margin EBITDA mencapai 24,9 persen. Sedangkan net margin tahun 2017 sebesar 13,5 persen, dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 72 miliar.

Sementara itu, Total Aset meningkat 18,3 persen dari Rp 447 miliar pada tahun 2016 menjadi Rp 529 miliar pada tahun 2017. Total Ekuitas naik 32 persen dari Rp 241 miliar pada tahun 2016 menjadi Rp 318 miliar pada tahun 2017. Total Kewajiban naik 2,3 persen dari Rp 206 miliar pada tahun 2016 menjadi Rp 211 miliar pada tahun 2017.

Sedangkan current ratio naik dari 1,9 kali menjadi 2,2 kali. ROE turun dari 36,7 persen menjadi 22,6%. ROA turun dari 19,7% menjadi 13,6 persen dan debt to equity ratio (DER) stabil, yakni sebesar 0,2 kali.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up