JawaPos Radar

Viral Pengusiran Relawan, Gubernur Sulteng: Hanya Relokasi

10/10/2018, 10:11 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Korban Gempa Sulteng
Tenda-tenda relawan kemanusiaan korban bencana di Palu, Donggala dan Sigi, Sulteng. (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Duka gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) yang merenggut ribuan jiwa belum usai. Kini kabar menggemparkan untuk sebuah tindakan kemanusiaan viral di media sosial (medsos).

Sejumlah relawan kemanusiaan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan relawan lainnya diusir dari halaman Kantor Bappeda Kota Palu. Kehilangan perangkat elektronik berupa laptop disebut-sebut menjadi faktor utama insiden pengusiran tersebut.

Dalam video berdurasi 7 menit 32 detik menunjukkan bahwa yang melakukan pengusiran adalah Kepala BPBD kota Palu. Dengan berat hati, sejumlah relawan dalam video tersebut melakukan persiapan dengan membongkar tenda-tenda yang merupakan lokasi tempat relawan bernaung di halaman Kantor Bappeda Kota Palu.

Viralnya video itu menuai respons dari Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho. "Saya telah mengonfirmasi hal itu kepada beberapa pihak. Ternyata bukan diusir, tetapi direlokasi atau dipindahkan ke halaman Kantor BPBD. Tujuannya memudahkan koordinasi dan halaman kantor Bappeda akan dibersihkan dan digunakan untuk apel ASN (Aparatur Sipil Negara)," kata Sutopo melalui keterangan resmi yang diterima JawaPos.com di Makassar, Rabu (10/10).

Beberapa relawan mendirikan tenda di halaman Kantor Bappeda Sulteng. Di bagian belakang kantor Bappeda adalah relawan dari BPBD Kabupaten Banggai Kepulauan dan mereka mendirikan dapur umum.

Sedangkan BPBD Sulawesi Utara (Sulut), BPBD Bolsel dan BPBD Bitung berada di halaman depan kantor Bappeda. Selain itu juga ada beberapa relawan lainnya. Mereka mendirikan tenda di halaman kantor Bappeda dan melakukan bantuan penanganan bencana sejak H+3 (1/10) lalu.

Menurut informasi dari BPBD Sulteng, terjadi kehilangan barang milik Bappeda. Usai gempa memang kondisi keamanan dan ketertiban di sebagian Kota Palu terganggu. Khususnya hingga H+2. Saat itu, kondisi keamanan dan lingkungan di Kota Palu agak rawan. Aparat polisi telah menangkap beberapa pencuri.

Sutopo menambahkan, kehadiran relawan sejak H+3 dengan mendirikan tenda-tenda justru ikut menjaga lingkungan kantor Bappeda dari aksi oknum yang melakukan tindakan kriminal. Usai gempa, kondisi kantor kosong karena pegawainya tidak masuk.

"Terkait dengan kehilangan barang tersebut, kepala Bappeda sudah melapor ke gubernur dan menjelaskan tentang kehilangan aset kantor. Maka diambil keputusan untuk mengosongkan halaman Kantor Bappeda. Selanjutnya, BPBD Sulteng sudah mengajak relawan-relawan dari BPBD Sulut dan Bolsel untuk bergeser ke halaman kantor BPBD Sulteng," ujarnya.

Gubernur Sulteng Longki Djanggola menegaskan, tidak ada istilah diusir. Yang benar adalah meminta kepala BPBD Sulteng untuk mengatur semua relawan-relawan BPBD di kantor Bappeda agar direlokasi ke Kantor BPBD Sulteng. Alasannya, kantor Bappeda akan dipakai para ASN yang sudah mulai aktif kerja sejak Senin (8/10) lalu.

"Kantor Bappeda akan dibersihkan dan dirapikan lagi. Karena dampak gempa belum dibersihkan dan lainnya. Selain itu sejak ASN aktif, maka semua ASN Bappeda harus apel dan masuk kerja. Tentu kegiatan mereka akan mengganggu kenyamanan relawan," tambah Longki melalui keterangan yang sama dalam rilis tersebut.

Perintah Gubernur Sulteng tersebut kemudian disampaikan kepada Kepala BPBD Sulteng kepada koordinator relawan yang menginap di halaman kantor Bappeda. Longki juga mengucapkan terima kasih atas dukungan, bantuan dan peran aktif relawan BPBD se Indonesia yang memang hadir ke Palu dan daerah terdampak bencana membantu korban bencana.

Rasa panggilan kemanusiaan untuk membantu masyarakat Sulteng yang tertimpa bencana benar-benar diperlukan masyarakat. Mewakili masyarakat Sulteng, Longki mengucapkan terima kasih kepada relawan dan semua pihak yang terlibat dalam penanganan bencana di Sulteng.

"Jadi tidak ada pengusiran. Hanya pengaturan dan relokasi tempat tenda relawan saja. Adanya misscommunication dalam penyampaian informasi sering terjadi di tempat bencana karena kondisi sudah lelah, kurang istirahat dan banyak keterbatasan. Tapi semuanya sama, memiliki niat baik untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana," pungkasnya.

(rul/JPC)

Alur Cerita Berita

Kelangkaan BBM Mulai Teratasi 10/10/2018, 10:11 WIB
Akses ke Palu Makin Mudah 10/10/2018, 10:11 WIB
Pasar Manonda Palu Kembali Bergeliat 10/10/2018, 10:11 WIB
Jokowi Kerahkan Psikolog ke Sulteng 10/10/2018, 10:11 WIB
Gempa Sulteng, 2.736 Sekolah Rusak 10/10/2018, 10:11 WIB
TNI Kirim Tiga Pesawat ke Palu 10/10/2018, 10:11 WIB
TNI Kirim 6 Ton Alkes ke Sulteng 10/10/2018, 10:11 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up