JawaPos Radar

KIsah Perjuangan Melawan Kerasnya Ombak

Hilang 86 Hari, Stenly Ditemukan Hidup di Perairan Amerika Serikat

10/10/2018, 08:01 WIB | Editor: Mohamad Nur Asikin
Hilang 86 Hari, Stenly Ditemukan Hidup di Perairan  Amerika Serikat
Ilustrasi Rompong (rumah rakit) yang ditumpangi Aldi saat terombang ambing di Perairan Jepang. (Facebook/KJRI Osaka)
Share this image

JawaPos.com - Masih hangat diingatan warga hilangnya Aldi Adilang,17, selama 49 hari di lautan lepas. Rupanya kasus serupa juga dialami Stenly Tatoy, warga Desa Gangga Satu, Kecamatan Likupang Barat, Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Bedanya, pria 37 tahun ini hilang dan terombang-ambing selama 86 hari dengan rompong (rumah rakit lautan), hampir tiga bulan.

Stenly ditemukan di Perairan Guam, Amerika Serikat, Selasa (9/10). Menurut informasi, Stenly dan Aldi saling kenal.“Iya (kenal), tapi saya dengan dia tidak terlalu dekat, hanya sekadar kenal saja di tempat pekerjaan. Dia memang lebih dulu hilang dari saya,” sebut Aldi saat wawancarai Manado Post (Jawa Pos Group), Rabu (10/10).

Informasi penemuan Stenly sendiri diperoleh dari paman korban. “Keponakan saya hilang waktu menjaga rakit (rompong),” beber Moses Corneles saat dikonfirmasi.

Hilang 86 Hari, Stenly Ditemukan Hidup di Perairan  Amerika Serikat
Stanly mendapat perawatan medis setelah tiga bulan terombang-ambing dari Talaud hingga perairan Guam, AS (Istimewa)

Menurutnya, informasi pertama diperoleh saat ia melihat postingan FB. Awalnya ia mencurigai lokasi keponakannya saat ditemukan berada di antara perairan Jepang-Filipina. “Soalnya perempuan yang bikin status di facebook tak mau bilang kalau itu di negara mana,” ungkap Moses, yang juga ketua Komisi Dua DPRD Kabupaten Minut tersebut.

Dari foto yang beredar, Stenly tampak sedang berada di ruangan. Dia mengenakan kaos putih dan celana pendek hitam. Kemudian tangan kirinya sedang diinfus petugas medis. Menurut Moses informan tersebut belum bisa berbicara banyak. Karena polisi dan pemerintah di negara tersebut, belum memberikan izin untuk ekspos.

“Setelah kami berusaha mencari tahu lokasi keponakan saya, ternyata bukan terdampar di Jepang. Melainkan di sekitaran Pulau Guam, tepatnya berada di lautan Pasifik Amerika Serikat, yaitu Pulau Yap,” bebernya.

“Sampai saat ini (kemarin) pemerintah Pulau Guam belum bisa mengekspos informasi tentang keberadaan ponakan saya, karena terikat dengan aturan pemerintah. Tetapi yang pasti sekarang dia sudah keluar rumah sakit dalam keadaan baik. Untuk sementara ditampung di tempat penampungan di Pulau Yap,” imbuhnya.

Sementara itu, menurut penerjemah Stenly yang ada di Pulau Yap Amelia Deasy Nathaline saat dikontak via messenger mengatakan, ia mengetahui keberadaan Stenly dari polisi setempat.

“Saat ini kondisi Stenly baik-baik saja dan sehat. Ia sudah keluar dari rumah sakit,” ceritanya. “Saya tak bisa memberikan informasi lebih. Tapi yang pasti pemerintah di sini sedang bekerja dan berusaha memulangkan beliau,” tambahnya.

Nathaline menambahkan, kemarin baru dilaporkan ke kedubes Indonesia. “Kemarin kami juga baru mendapatkan informasi keluarganya. Mohon bersabar, karena ketika pemerintah di sini sudah mengizinkan, saya pasti akan memberi kabar,” tandas Deasy.

Alfonsus Tatoy, ayah Stenly hanya bisa bersyukur. “Pertama saya mengetahui anak saya masih hidup dari orang Indonesia yang tinggal di Pulau Yap. Dia kirim informasi kemari dan fotonya juga di Pulau Yap. Untuk saat ini, kami belum ada kontak sama sekali dengan Stenly, katanya masih sementara pemulihan kesehata karena ia mungkin masih trauma. Ia terdampar di Pulau Yap. Kalau Aldi kapal yang dapat, tapi anak saya terdampar di sana,” terangnya.

Diceritakan juga perusahaan Aldi dan Stenly pemiliknya kakak beradik. “Jadi sampai rakitnya hanyut itu kemungkinan karena talinya sudah lama dan rapuh. Ditambah lagi angin kencang arah barat. Ketika mengetahui Stenly hilang saya bersama istri siang malam berdoa terus, dan melapor ke polisi. Tapi ia sudah jauh hanyut dan mengikuti pulau Sangihe dan Talaud,” jelasnya.

Untuk saat ini keluarga belum tau kapan Stenly pulang. “Mungkin mau pemulihan dulu baru bisa pulang ke Indonesia. Saat ini belum ada pemberitahuan dari pemerintah sini (Minut) kapan Stenly kembali,” tandas Alfonsus, yang memiliki enam orang anak.

Sementara itu, Kepala Jaga Dua Desa Gangga Satu Deborah Katumbal membenarkan Stenly warganya. “Stenly dan kedua orangtuanya tinggal di sini. Ia sudah menikah. Istrinya orang Batu Putih dan tinggal di sana. Karena melaut ia pergi ke sana kemari. Namun untuk data pemilihnya masih terdaftar di desa kami,” beber Deborah.

Paman Stenly lainnya, Agus Bintang mengatakan, keponakannya berprofesi sebagai nelayan yang menjaga rakit. “Jadi ketika kami mengetahui Stenly hilang, kami langsung mendatangi pihak perusahaan tempat ia bekerja dan meminta tanggung jawab. Saat itu perusahaan mengiyakan akan tanggung jawab dan berusaha mencari, akan tetapi tidak ketemu,” ucapnya.

“Jam lima (sore kemarin) keluar di facebook dan kami mendesak untuk segera menghubungi Stenly. Stenly juga anggota jemaat saya karena saya penatua kolom. Saya juga memberikan penguatan rohani kepada keluarga berupa berdoa dan meyakinkan keluarga karena Stenly masih hidup, sebab bapaknya sangat khawatir,” tutup Bintang, suami dari kepala Jaga Dua.(***)

(ask/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up