JawaPos Radar

Laporan Khusus Kekeringan Jateng dan DIJ

Klaim Bangun Seribu Embung, Ganjar: Sisi Hulu Harus Diperbaiki

10/10/2018, 11:50 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Kekeringan
ILUSTRASI: Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengklaim telah membuat sebanyak seribu embung lebih sebagai tempat penyimpanan air kala musim kemarau datang. (Ivan Mardiansyah/Lombok Pos/JawaPos Group)
Share this image

JawaPos.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengklaim telah membuat sebanyak seribu embung lebih sebagai tempat penyimpanan air kala musim kemarau datang. Meski begitu, bencana kekeringan tetap terjadi lantaran ada banyak hal yang menjadi perhatian berkaitan dengan fenomena tahunan ini.

"Pembuatan embung tetap jalan terus sampai hari ini. Makanya kalau ada ruang-ruang sisa maka kita manfaatkan. Sampai 2017 sudah 1.090 embung," ujar Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat dijumpai di Wisma Puri Gedeh, Semarang, Selasa (9/10).

Untuk diketahui, apa yang dipaparkan Ganjar di atas merupakan realisasi dari program seribu embung. Dicanangkan Pemprov Jateng pada 2015 lalu. "Tapi itu hanya nama, sebenarnya kami mau bikin yang lebih banyak lagi," sambung pria berambut putih tersebut.

Kekeringan di Jateng dan DIJ
Infografis Kekeringan di Jateng dan DIJ (Rofiah Hidayat/JawaPos.com)

Di sisi lain, Ganjar sendiri meyakini bahwa dengan pembuatan ribuan embung saja, sebenarnya masalah kekeringan tak bisa langsung terselesaikan. Karena memang bisa dilihat kekeringan saat ini masih terjadi di sebagian besar wilayah Jateng. Atau tepatnya di 30 kabupaten/kota berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat per 5 Oktober 2018 kemarin.

"Sisi hulunya mesti diperbaiki, menanam, mengkonservasi sumber daya air. Mudah-mudahan kita nanti awal tahun depan ini bisa melaksanakan Kongres Sungai. Yang terakhir dari rangkaian yang sudah kita sepakati di Jakarta. Kita mulai masuk bicara tentang politik air," terangnya lagi.

Mengenai politik air itu, akan dibahas segala persoalan tentang pemanfaatan air dari hulu hingga hilir. Termasuk konsentrasi soal air baku, suplai air, maupun tentang penggunaannya secara efisien.

Sementara sambil menunggu itu semua, Ganjar mengaku pihaknya terus mensosialisaikan soal panen air. Menyusul musim hujan yang diprediksi turun tak lama lagi. 

"Kita masih dalam pantauan, semoga bulan depan turun hujan. Tapi sekaligus saya ngomong, parit, selokan, bersihkan. Siapkan tempat-tempat penampungan air untuk melakukan panen air. Jadi rain harvesting-nya jalan. Air disimpen, buat pori dan sebagainya ini kita sosialisasikan terus," tegasnya.

Terpenting, menurut Politisi PDIP itu menyikapi fenomena alam kekeringan ini adalah selalu siaga. Apalagi kekeringan memang sudah menahun di Jateng. "Cuaca sudah kita prediksi, besok kekeringan. Nah kan sudah tahu besok kekeringan, ya makanya simpanlah (air). Nah kapasitas airnya seberapa? Maka sumber-sumber air yang bagus jangan dirusak lah," tegasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data dari BPBD Jateng per 5 Oktober 2018 lalu terungkap total sebanyak 13.242 tangki air bersih telah dikirimkan ke masyarakat di 30 kabupaten/kota di Jateng. Hal itu dilakukan karena persediaan air bersih semakin menipis bahkan karena adanya fenomena alam kekeringan. Buntut dari kemarau panjang dimulai bulan Juli 2018 kemarin.

Data tersebut juga mengungkap, masih ada 223 kecamatan dan 850 desa kekurangan air bersih. Dimana Kabupaten Purbalingga berada di urutan daerah teratas pada daftar daerah dengan distribusi air terbanyak. Sampai Jumat (5/10) kemarin, setidaknya sudah ada 2.094 tangki air yang dikirim ke sana. Total ada 15 kecamatan dan 63 desa terdampak kekeringan di Purbalingga. 

Adapun daerah dilanda kekeringan lainnya menurut data BPBD Jateng, diantaranya Kabupaten Blora dengan 10 kecamatan dan 86 desa terdampak, kemudian Kebumen 11 kecamatan dan 49 desa, serta Banyumas 12   kecamatan dan 42 desa. Masing-masing daerah tersebut telah menerima sedikitnya seribu lebih tangki berisikan air bersih.

"Distribusi air jalan terus, tapi saya minta sistemnya yang optimal. Ada kades, lurah, camat, BPBD, ada banyak orang siap membantu. Saya minta meeting pointnya di BPBD, jadi kalau ada kekurangan, lapornya ke sana agar lebih cepat. Saya juga ingin sistem pemerintahan berjalan dengan masing-masing layer bertanggungjawab. Kami punya stok air banyak, swasta dan CSR ada. Tapi cara menyalurkannya agar pas, masyarakat butuh kita kasih. Jangan sampai nongolnya karena pencitraan," cetusnya.

(apl/dho/gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up