JawaPos Radar

Warga Sulteng Ini Keberatan Rencana Pemerintah Hentikan Evakuasi

09/10/2018, 19:30 WIB | Editor: Estu Suryowati
Warga Sulteng Ini Keberatan Rencana Pemerintah Hentikan Evakuasi
Korban gempa dan tsunami Sulawesi Tengah (Sulteng) di pengungsian, Selasa (9/10). (Issak Ramadhani/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pemerintah daerah Sulawesi Tengah (Sulteng) berencana menghentikan pencarian korban gempa dan dan tsunami pada Kamis (11/10). Namun, masyarakat memiliki aspirasi lain.

Salah satu korban terdampak gempa dan tsunami, Bonte, 50, mengaku masih mencari adiknya yang diduga menjadi korban gulungan tsunami di Kota Palu. Pria paruh baya itu menuturkan, sebanyak lima orang keluarganya tewas diterjang tsunami saat berada di Pantai Talise.

"Adik saya Ricani, 40, belum ditemukan sampai saat ini," kata Bonte saat ditemui di Pantai Talise, Palu Timur, Sulteng, Selasa (9/10).

Meski bau mayat masih menyengat di sekitar Pantai Talise, Bonte tidak gentar untuk mencari jasad adiknya. Dia pun berharap Tim SAR dapat membantu untuk mencari jasad adiknya tersebut.

"Jadi, Tim SAR bukan hanya fokus pada satu titik pencarian," ucapnya.

Terkait rencana penghentian evakuasi, Bonte menolak. "Harapannya tetap dilakukan proses evakuasi," ujar Bonte.

Secara terpisah, General Manager Komunikasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) Lukman Azis menyatakan, pihaknya akan tetap melakukan proses evakuasi jika ada warga yang meminta.

"Kami tidak akan menjadikan fokus utama. Tapi tetap berjalan kalau ada yang meminta," tutur Lukman.

Lukman menyebut pihaknya fokus pada penyaluran bantuan untuk warga yang masih kesulitan makanan. Sehingga tidak ada warga yang mati kelaparan.

"ACT fokus melayani yang hidup agar mereka tidak mati kelaparan," jelasnya.

Sebelumnya Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola berencana memutuskan fokus pencarian korban atau terus dilakukan sampai 14 hari sesuai ketentuan tanggap bencana.

"Kami mau tanya masyarakat, apakah dilanjutkan pencarian atau kita hentikan untuk menghindari dampak penyakit yang ditimbulkan. Sebagian masyarakat menghendaki dihentikan dan lokasi itu dijadikan kuburan massal lalu dibangunkan monumen," ucap Longki Djanggola di Palu, Senin (8/10).

(rdw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up