JawaPos Radar

Rupiah Tembus 15.235, Perlu Figur Pemerintah yang Responsif

09/10/2018, 19:06 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
Rupiah Tembus 15.235, Perlu Figur Pemerintah yang Responsif
Ilustrasi Mata Uang Rupiah (Dok. JawaPos.Com)
Share this image

JawaPos.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) sore ini makin melemah masih diatas level 15.200. Mengutip yahoofinance, rupiah saat ini terjerembab di level 15.235 per dolar AS.

Pengamat Komunikasi Politik Emrus Sihombing mengatakan upaya pemerintah dalam meningkatkan sektor perekonomian dirasa belum maksimal. Hal ini terlihat dari terintimidasinya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS hingga menembus level Rp 15.000 per dolar AS.

Menurutnya, wacana untuk mencari figur tepat bagi perbaikan perekonomian Indonesia dinilai diperlukan, menyusul kemungkinan Bank Sentral AS Federal Reserve diperkirakan kembali menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini.

"Justru Pemerintahan Jokowi di tahun terakhir pada periode pertama ini harus bisa menekan Dolar dan mendongkrak nilai Rupiah kita. Jangan sampai Desember nanti Dolar naik, baru menteri mengatakan karena Amerika menaikkan bunga, jadi tidak bisa," ujarnya di Jakarta, Selasa (9/10).

Emrus memandang, Menteri Keuangan Sri Mulyani selaku pemerintah perlu mengambil langkah bijak dalam memperbaiki perekonomian Indonesia saat ini. 

"Karena kita tidak ingin mempertaruhkan nasib rakyat karena seorang menteri, tetapi bagaimana Dolar ini bisa turun dan Rupiah kita naik supaya kesejahteraan rakyat kita meningkat," tuturnya.

Meskipun demikian, lanjutnya, model yang dipergunakan jangan sampai menguras devisa negara. Artinya, model yang digunakan harus mampu menekan Dolar dan mengangkat kembali nilai Rupiah tanpa memanfaatkan devisa negara.

"Tetapi, model itu jangan justru menguras devisa negara kita, bisa saja Dolar itu turun, tetapi digelontorkan semua devisa kita, ya sami mawon,” imbuhnya.

Selain itu, tambahnya, model yang akan dipergunakan harus melalui uji publik terlebih dahulu agar masyarakat bisa menilai penerapan kebijakan ekonomi yang digunakan lebih baik dari sebelumnya.

 

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up