JawaPos Radar

Acak-acak Perkebunan, Warga Kampar Diteror Kawanan Gajah Liar

09/10/2018, 15:10 WIB | Editor: Dida Tenola
Acak-acak Perkebunan, Warga Kampar Diteror Kawanan Gajah Liar
Proses evakuasi anak gajah betina bernama Intan yang terluka karena jeratan babi di areal konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) milik PT RAPP wilayah Mandau, Siak, Riau, Kamis (13/9). (Virda Elisya/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Kawanan gajah liar memasuki kebun sawit warga di Bencah Kulubi, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau. Aktivitas gajah ini, sangat merisaukan warga selama sepekan terakhir. Sebab, mereka mengacak-acak dan memakan apa saja yang ada di sekitarnya.

Salah seorang warga bernama Ahmad Zikri, 35, mengatakan, gerombolan gajah liar itu sudah merusak kebun. Ahmad berharap agar pihak terkait dapat segera mengembalikan kawanan satwa dilindungi itu ke habitatnya. Dia ingin teror gajah liar itu segera berakhir. "Iya sudah sampai 10 hektare kebun yang dirusak. Tolong kami sebagai rakyat ini," keluhnya, Selasa (9/10).

Kepala Bidang I Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Mulyo Hutomo menjelaskan, pihaknya sudah menerjunkan tim ke lokasi sejak pekan lalu. Mereka akan menggiring kawanan gajah itu ke Taman Hutan Raya (Tahura). Tahura dipilih karena lokasinya berdekatan dengan perkebunan warga. "Tahura itu berada di belakang. Tim saat ini sedang mengikuti gajah untuk dikembalikan ke sana," jelas Hutomo.

Berbeda dengan penanganan sebelumnya, kali ini BBKSDA Riau tidak menggunakan gajah jinak dari Pusat Latihan Gajah (PLG). " Karena posisinya tidak begitu jauh, jadi tim saat ini mengikuti gajah untuk masuk ke Tahura. Tidak perlu gajah jinak," tambahnya.

Setiap tahun, konflik antara gajah liar dengan warga nyaris tak bisa terhindarkan. Pasalnya, kawasan itu merupakan perlintasan gajah. Setiap tahunnya, gajah-gajah dari dalam hutan akan berjalan melewati pemukiman warga.

Kawanan gajah ini biasanya bergerak dari Petapahan menuju Bencah Kulubi lalu ke kawasan Rumbai, Kota Pekanbaru. Kemudian mereka menuju kawasan Duri, Bengkalis. Kawanan ini lalu bergerak lagi dari Bengkalis hingga kembali ke habitatnya di Tahura.

Selain penggiringan, BBKSDA tiap tahunnya juga menyosialisasikan kepada masyarakat cara mengusir gajah dari perkebunan. Salah satunya menyalakan bunyi-bunyian agar gajah ini menghindar. "Namun konflik ini akan selalu terjadi karena memang di sana perlintasannya sebelum ada kebun sawit," pungkas Hutomo.

(ica/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up