JawaPos Radar

Tak Hanya Said Iqbal, Polisi Juga Periksa Dokter Bedah Ratna Sarumpaet

09/10/2018, 14:03 WIB | Editor: Erna Martiyanti
Tak Hanya Said Iqbal, Polisi Juga Periksa Dokter Bedah Ratna Sarumpaet
Selain Said Iqbal, Polda Metro Jaya juga memanggil dokter bedah Ratna Sarumpaet hari ini, Selasa (9/10). (Miftahul Hayat/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Pemeriksaan saksi-saksi untuk tersangka Ratna Sarumpaet masih terus berlanjut. Usai memanggil Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, tim penyidik Ditkrimum Polda Metro Jaya akan kembali memeriksa dokter Sidik Setiamihardja hari ini, Selasa (9/10).

Nama Sidik disebut-sebut sebagai dokter langganan perawatan operasi plastik Ratna Sarumpaet di Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) Bina Estetika. Kehadirannya di Ditkrimum Polda Metro Jaya sebagai saksi atas kasus kebohongan berita penganiayaan Ratna.

"Setelah mengagendakan Said Iqbal sebagai saksi, penyidik juga mengagendakan saksi lain, dr Sidik. Yang bersangkutan sudah hadir di ruangan Ditkrimum," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, Selasa (9/10).

Tak Hanya Said Iqbal, Polisi Juga Periksa Dokter Bedah Ratna Sarumpaet
Infografis kasus kebohongan Ratna Sarumpaet. (Rofiah Darajat/JawaPos.com)

Pemeriksaan kepada dr Sidik, kata Argo, tidak terlepas dari lanjutan penyidikan kasus yang membelit Ratna Sarumpaet. Tim penyidik akan menanyakan beberapa hal seputar aktivitas Ratna saat berada di rumah sakit.

"Apakah ada konsultasi, bagaimana tindakan medis, aktivitas Ratna, dan sebagainya, itu akan ditanyakan oleh tim penyidik, kata Argo.

Diketahui, pemanggilan dr Sidik oleh Direktorat Kriminal Umum (Ditkrimum) merupakan pemeriksaan kedua. Sebelumnya yang bersangkutan sudah dimintai keterangan oleh penyidik pada Kamis, 4 Oktober lalu. 

Sebelumnya, tim penyidik Ditkrimum Polda Metro Jaya menetapkan Ratna Sarumpaet sebagai tersangka penyebaran berita bohong wajah lebamnya akibat dianiaya. Kebohongannya meluas, hingga menciptakan keonaran dan keributan di masyarakat.

Atas perbuatannya, Ratna kemudian dijerat Pasal 14 Undang-Undang (UU) 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 juncto Pasal 45 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Setelah itu, Ratna ditetapkan menjadi tersangka dan resmi ditahan di Rutan Ditkrimum Polda Metro Jaya.

(ce1/wiw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up